Pangannews.id - Petani muda, Tony Devisa mulai membudidayakan tanaman asal Papua, Pohon Masoi atau Cryptocarya Massoy di tempatnya, Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.
Tony, panggilan karibnya, telah memulai menanam Masoi semenjak dua tahun lalu, di Kayu Jao, Nagari Batang Barus.
Ia membudidayakan tanaman itu lantaran permintaan disebabkan oleh permintaan pasar yang tinggi namun ketersediaannya sangat langka.
"Selain permintaan akan Masoi ini tinggi, takutnya nanti menjadi langka. Makanya saya coba tanam di Solok dan ternyata dapat tumbuh dengan baik,” kata Tony, Kamis 23 Maret 2023.
Sehingga, ia berinisiatif memulai membudidayakan tanaman asal Papua itu. Ia bahkan membeli bibit Masoi dari tanah Papua.
"Awalnya saya tanam sedikit, untuk mengetes kandungannya apakah dapat tumbuh di Solok, ternyata kandungannya bagus, dan mulai saya kembangkan,” tutur Toni.
Hingga kini, ia telah menanam pohon Masoi sebanyak 10.000 pohon yang tersebar pada 5 hektar lahan miliknya.
“Masoi ini kan baru bisa dipanen jika sudah berumur 10 tahun. Jadi, jika umurnya sekarang dua tahun artinya delapan tahun lagi baru bisa di panen. Itung-itung sebagai investasi,” papar dia.
Tony menyebut, sejumlah pohon Masoi miliknya sudah siap untuk dipanen. Adapun cara panennya hampir sama dengan panen kulit manis. Kulit pohon akan di ambil, disuling dan minyaknya akan digunakan untuk berbagai macam kebutuhan seperti parfum. Harga perkilogramnya cukup tinggi yaitu mencapai Rp 125 ribu perkilogram.
"Jika kami kembangkan di Papua tentu pengeluaran biayanya lebih tinggi, jadi kami coba tanam di Solok agar biayanya bisa ditekan,” papar dia.
Sebagai informasi, Pohon Masoi (Cryptocarya Massoy), masuk ke dalam salah satu jenis tumbuhan penghasil HHBK unggulan Papua.
Berdasarkan Jurnal Penelitian Kehutanan Faloak, tumbuhan Masoi mengandung senyawa masoilakton yang dapat digunakan sebagai bahan baku untuk industri makanan, kosmetik, dan obat-obatan.
Tumbuhan ini tersebar di beberapa wilayah di Papua seperti Manokwari, Sorong, Nabire, Biak Numfor, Yapen, Waropen, Merauke, Jayapura. Saat ini, permintaan global terhadap masoi diperkirakan mencapai 500.000 ton setiap tahun.
Namun, pasokan utama masoi masih sangat terbatas dari Indonesia (Papua) dan Papua Nugini. Kontribusi Indonesia dalam pemenuhan permintaan global ini tergolong sangat rendah yaitu sekitar 2%.
Sampai sekarang, permintaan terhadap masoi masih sangat tinggi. Sedangkan pasokan masoi pada pasar internasional masih didominasi oleh masoi dari Papua. Hal ini mengakibatkan terjadinya overeksploitasi terhadap masoi di alam. Bila kondisi ini terus berlanjut, masoi dikhawatirkan akan punah.
Penulis: Egi Abdul Mughni
Editor: R Muttaqien


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.