PanganNews.id - Mantan kepala unit sebuah bank BUMN, Dwi Putra Kurniawan (47) memilih menetap menjadi seorang petani kopi di wilayah Jalan Sidodadi II Loktabat Selatan, Banjarbaru.
Keputusan Dwi untuk berhenti menjadi karyawan BUMN sempat membuat masyarakat kaget. Terlebih, Dwi memilih menjadi petani kopi yang sehari-harinya pulang-pergi kebun.
Bahkan, tetangganya sempat menganggap dirinya tak waras karena memilih jalan tersebut yang mulanya pulang-pergi dengan pakaian serba rapi.
"Pernah diolok teman karena perginya ke hutan jadi petani, yang awalnya seorang pegawai," kata Dwi, dikutip dari BANJARMASINPOST.CO.ID , Jumat 24 Maret 2023.
Namun, keputusan Dwi nampak tepat. Dari kopi yang ia tanam, menghasilkan omset puluhan juta dalam sebulan. Bahkan, mampu memasarkan kopi asal Banua hingga ke luar negeri.Kisah sukses Dwi dimulai sejak 2015 lalu, dengan tekad ingin membuktikan bahwa kopi juga bisa tumbuh di dataran rendah di daerahnya.
Sebab menurutnya saat ini masyarakat luas banyak yang belum mengetahui hal tersebut, lantaran hanya mengenal dua jenis kopi, yakni arabika dan robusta.
"Padahal ada dua lagi jenis kopi, liberica dan excelsa. Ini yang bisa tumbuh maksimal di dataran rendah," kata dia.
Tidak cukup hanya berhasil mengembangkan dua kopi dataran rendah di Kalsel, kini giliran Dwi meyakinkan para petani lainnya untuk ikut menanamnya.
"Awalnya memang tidak mudah untuk meyakinkan masyarakat, petani dan kedai-kedai tentang kopi lokal," ungkap ayah empat anak tersebut.
Berkat ketekunannya itu, kopi asal Banua saat ini sudah berhasil menembus pasar internasional, di antaranya Yaman, Mesir, Amerika, Findlandia, Jepang, hingga Vietnam.
Bahkan, karena terlalu banyak permintaan pasar, kebun kopi milik Dwi bahkan tidak mampu memenuhi permintaan pasar yang meningkat itu.
"Di Kalsel bahan baku terbatas, sehingga membutuhkan penanaman lebih masif lagi, termasuk SDM nya, banyak kurang minat," kata dia.
Dwi menilai bahwa kebanyakan petani kopi di Kalsel ingin mendapatkan keuntungan secara instan.
Padalah menurutnya agar produk kopi memiliki nilai lebih tinggi, maka tidak bisa dilakukan dengan menjual bahan mentah.
"Petani kopi itu menurut saya harus menguasai konsep 3 M, yaitu Menanam, Mengolah, dan Menjual. Bukan zamannya lagi sekarang jual bahan mentah," terangnya.
Sebagai salah satu cara mempromosikan kopinya, Dwi juga menyediakan kebun edukasi, bagi masyakarat yang ingin mengenal lebih dekat tentang kopi.
Kedai itu bernama Biji Kopi Borneo, lokasi ada Jalan Ahmad Yani Km 31, Jalan Sidodadi II Loktabat Selatan, Banjarbaru.
Untuk bisa sampai ke lokasi ini aksesnya cukup mudah dijangkau, hanya berjarak sekira 400 meter dari Jalan Ahmad Yani.
Penulis: Egi Abdul Mughni
Editor: R Muttaqien


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.