Kamis, 28 Agustus 2025 20:32 WIB
Pangannews.id - Pakar analisis kehalalan produk dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Abdul Rohman, S.F., M.Si., Apt., angkat suara terkait dugaan kandungan lemak babi dalam wadah makanan atau food tray yang digunakan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, secara teknis, penggunaan lemak babi dalam produk seperti ompreng memang dimungkinkan, khususnya sebagai bahan pelemas.
“Bisa saja lemak babi ini dijadikan sebagai komponen pelemas sebagai bahan campuran untuk minyak yang lain, misalnya minyak mineral,” kata Abdul, dikutip dari laman resmi UGM, Kamis (28/8/2025).
Keterangan ini disampaikan Abdul menyusul ramainya pemberitaan di media sosial mengenai food tray MBG yang diduga mengandung bahan haram. Wadah makanan tersebut diketahui merupakan produk impor dari wilayah Chaoshan, China.
Dugaan ini pertama kali dilaporkan oleh Indonesia Business Post, yang melakukan investigasi di kawasan industri penghasil food tray di sana.
Meski menilai kemungkinan itu secara ilmiah terbuka, Abdul menegaskan belum dapat memastikan keberadaan lemak babi dalam produk ompreng MBG karena kasusnya masih dalam penyelidikan.
“Itu ranahnya tim pemeriksa, dalam hal ini Badan Gizi Nasional (BGN) yang sedang melakukan penelusuran,” ujarnya.
Lebih lanjut, Abdul menjelaskan metode yang lazim digunakan untuk menguji apakah suatu produk mengandung lemak babi. Menurutnya, proses dimulai dengan ekstraksi lemak dari bahan yang diuji, lalu dilakukan analisis lanjutan menggunakan instrumen khusus.
“Pertama-tama dilakukan ekstraksi sehingga lemak babi dapat terekstraksi dan selanjutnya dianalisis dengan metode tertentu,” ungkapnya.
Dosen Fakultas Farmasi UGM ini menyebutkan metode kromatografi gas yang dilengkapi dengan detektor spektrometer massa (GC-MS) sebagai salah satu teknik yang banyak dipakai untuk mengidentifikasi jenis asam lemak yang terkandung dalam suatu bahan.
“Asam-asam lemak yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan profil asam lemak yang teridentifikasi dalam lemak babi,” jelasnya.
Selain GC-MS, Abdul juga mengungkapkan bahwa metode LC-HRMS (liquid chromatography–high resolution mass spectrometry) sering digunakan oleh para ahli sebagai metode deteksi lanjutan yang lebih presisi.
“Metode ini umumnya lebih banyak digunakan oleh para ahli,” tambahnya.
Sementara itu, BGN belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait hasil pemeriksaan food tray MBG yang tengah dipersoalkan. Pemeriksaan dilakukan menyusul laporan dugaan kandungan berbahaya dalam ompreng yang digunakan secara massal dalam program makanan gratis pemerintah.
Diketahui, terdapat sekitar 30 hingga 40 pabrik di Chaoshan, China, yang menjadi eksportir food tray untuk pasar global, termasuk Indonesia. Dugaan kandungan non-halal dalam wadah makanan ini memicu kekhawatiran masyarakat, khususnya dari sisi kehalalan dan keamanan produk yang dipakai dalam program berskala nasional.
Editor : Adi Permana
Senin, 20 April 2026 12:14 WIB
Sabtu, 18 April 2026 15:22 WIB
Jumat, 17 April 2026 15:35 WIB
Jumat, 17 April 2026 14:03 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...