Selasa, 14 April 2026 10:57 WIB
Pangannews.id - Pemerintah mulai melirik pemanfaatan teknologi nuklir sebagai bagian dari strategi memperkuat swasembada pangan nasional. Pendekatan ini dinilai tidak hanya mendorong peningkatan produksi, tetapi juga memperkuat ketahanan sistem pangan dari hulu hingga hilir.
Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Bara Krishna Hasibuan, mengatakan target pemerintah saat ini tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan pangan, melainkan membangun sistem yang lebih tangguh terhadap berbagai tekanan.
“Pemerintah menargetkan swasembada pangan yang lebih dari sekadar ketahanan, tetapi juga resiliensi pangan pada komoditas strategis,” kata Bara dalam agenda yang digelar Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Selasa (7/4/2026).
Menurutnya, teknologi nuklir dapat dimanfaatkan dalam berbagai aspek pertanian, mulai dari pengembangan varietas unggul hingga pengelolaan sumber daya.
Salah satu peran utamanya adalah melalui teknik pemuliaan tanaman untuk menghasilkan varietas yang lebih produktif dan adaptif terhadap perubahan iklim.
Selain itu, teknologi ini juga dinilai mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan air, memperkuat sistem pascapanen, serta membantu pengendalian hama secara lebih ramah lingkungan.
Namun demikian, Bara mengingatkan adanya potensi risiko yang perlu diantisipasi dalam pemanfaatannya. Salah satunya adalah kemungkinan kontaminasi radionuklida yang dapat berdampak luas terhadap keamanan pangan dan kesehatan masyarakat.
Ia mencontohkan paparan zat seperti Cesium-137 yang berpotensi mencemari lingkungan dan rantai pangan jika tidak diawasi dengan ketat.
“Risiko ini perlu diantisipasi melalui sistem pengawasan yang kuat dan terintegrasi,” ujarnya.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya peran Organisasi Riset Tenaga Nuklir dalam memperkuat sistem mitigasi, termasuk melalui pengembangan laboratorium nasional untuk mendeteksi kontaminasi pada pangan dan lingkungan.
Selain penguatan pengawasan, pemerintah juga mendorong penyusunan protokol respons darurat yang melibatkan lintas sektor, seperti BNPB dan Kementerian Kesehatan, guna memastikan penanganan cepat jika terjadi insiden.
Di sisi lain, Bara menilai perlu adanya sinkronisasi antara program riset nuklir yang dilakukan BRIN dengan target swasembada pangan nasional. Hal ini termasuk pengembangan varietas unggul berbasis mutasi, perluasan teknologi iradiasi untuk mendukung ekspor hortikultura, hingga integrasi teknik isotop dalam pemantauan lahan pertanian.
Ia juga menyoroti pentingnya harmonisasi regulasi pangan iradiasi dengan standar internasional agar produk Indonesia dapat bersaing di pasar global.
“Melalui sinergi ini, pemanfaatan teknologi nuklir diharapkan dapat memperkuat sistem pangan nasional yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Editor : Adi Permana
Sabtu, 11 April 2026 07:12 WIB
Kamis, 02 April 2026 11:48 WIB
Sabtu, 28 Maret 2026 13:10 WIB
Sabtu, 14 Maret 2026 11:13 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...