Pangannews.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meminta masyarakat Jakarta tidak panik menanggapi temuan mikroplastik dalam air hujan. Peneliti BRIN Muhammad Reza Cordova menegaskan, risiko dampak mikroplastik terhadap tubuh dapat ditekan selama masyarakat menerapkan gaya hidup sehat.
“Tidak perlu terlalu cemas. Berdasarkan berbagai penelitian, tubuh yang sehat memiliki kemampuan lebih baik untuk mengeluarkan polutan,” kata Reza.
Ia menjelaskan, kebiasaan mengonsumsi buah dan sayuran secara teratur merupakan bagian penting dari pola hidup sehat karena kandungan serat dapat membantu tubuh membuang zat berbahaya, termasuk polutan mikroplastik yang mungkin masuk bersama udara atau air.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Ketua Subkelompok Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, Rahmat Aji Pramono.
Ia juga menilai, masyarakat tidak perlu takut secara berlebihan dengan adanya mikroplastik, selama tetap menjaga kesehatan dan memperhatikan kondisi lingkungan sekitar.
“Yang terpenting adalah menjaga daya tahan tubuh. Selain itu, warga juga perlu rutin mengecek kondisi udara sebelum beraktivitas di luar rumah,” ujarnya.
Rahmat menjelaskan, warga bisa memantau kualitas udara harian melalui aplikasi Jakarta Kini (JAKI) atau situs udara.jakarta.go.id.
Bila tingkat polusi tinggi, terutama pada musim kemarau, ia menyarankan warga untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
“Polusi biasanya meningkat di musim kemarau. Kalau indeks PM 2,5 tinggi, lebih baik mengenakan masker karena partikel halus itu bisa membawa mikroplastik,” katanya.
Ia juga menambahkan pentingnya menjaga kebersihan rumah. Menurutnya, debu di dalam ruangan juga bisa menjadi sumber paparan mikroplastik yang kerap diabaikan masyarakat.
“Membersihkan debu secara rutin itu sederhana, tapi efektif mencegah paparan mikroplastik di rumah,” imbuhnya.
Penelitian BRIN sejak 2018 mencatat, butiran mikroplastik telah ditemukan dalam air hujan di wilayah Jakarta, menandakan bahwa pencemaran plastik kini telah mencapai atmosfer.
Kondisi ini, kata Reza, perlu ditangani melalui pendekatan ilmiah, kebijakan yang berbasis data, dan kerja sama lintas sektor.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.