Kenali Hantavirus, Penyakit dari Tikus yang Bisa Sebabkan Gangguan Paru

Pers Pangannews

2 jam yang lalu

news
Kenali Hantavirus, penyakit dari tikus yang bisa sebabkan gangguan paru. (Foto : Pixabay)

Pangannews.id - Ramainya pembahasan soal hantavirus di media sosial belakangan ini memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Virus yang ditularkan melalui tikus liar itu disebut-sebut dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat hingga kematian.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pun meminta masyarakat tidak terburu-buru panik. Peneliti BRIN menegaskan, hingga kini Indonesia belum pernah melaporkan kasus Andes virus, salah satu jenis hantavirus yang banyak diperbincangkan.

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto, menjelaskan hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang ditularkan dari hewan pengerat, terutama tikus liar. Virus itu dapat menyebar ketika manusia menghirup partikel halus yang berasal dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.

“Reservoir utama Andes virus adalah tikus liar. Penularan umumnya terjadi ketika manusia menghirup partikel halus dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi,” ujar Ristiyanto, dikutip dari laman resmi BRIN.

Jenis hantavirus yang kini banyak menjadi perhatian adalah Andes virus yang ditemukan pada tikus liar Oligoryzomys longicaudatus di wilayah Patagonia, Argentina dan Chile. Virus tersebut diketahui dapat memicu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), infeksi paru berat yang bisa berkembang menjadi gagal napas akut.

Menurut Ristiyanto, gejala awal hantavirus kerap sulit dikenali karena menyerupai influenza biasa. Penderitanya umumnya mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, tubuh lemas, hingga gangguan pencernaan. Namun dalam kondisi tertentu, penyakit itu dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan serius yang memerlukan perawatan intensif.

Ia menyebut angka kematian akibat HPS tergolong tinggi, berkisar 20 hingga 35 persen. Karena itu, kewaspadaan terhadap paparan tikus liar dinilai penting, terutama di lingkungan yang berpotensi menjadi tempat berkembangnya rodensia.

Meski demikian, BRIN menegaskan hasil riset vektor dan reservoir penyakit di Indonesia pada 2015–2018 tidak menemukan Andes virus pada tikus domestik maupun tikus liar yang diteliti.

Peneliti BRIN lainnya, Arief Mulyono, mengatakan masyarakat juga perlu memahami bahwa penularan antarmanusia pada Andes virus sangat jarang terjadi.

“Penularan antarmanusia pada Andes virus sangat jarang terjadi dan umumnya hanya berlangsung melalui kontak erat dan intensif dalam waktu lama. Penyakit ini tidak menyebar cepat melalui udara di lingkungan masyarakat,” kata Arief.

Ia juga meluruskan anggapan yang menyebut Andes virus sebagai penyakit menular seksual. Menurut dia, penularan lebih mungkin terjadi akibat kontak fisik sangat dekat, termasuk paparan air liur atau sekret pernapasan saat penderita berada pada fase akut penyakit.

Kelompok yang dianggap lebih rentan terpapar hantavirus antara lain pekerja pertanian, petugas kebersihan, pekerja kehutanan, warga pedesaan, hingga orang yang membersihkan gudang atau bangunan lama yang tertutup dan minim ventilasi.

Untuk mencegah risiko penularan, masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi potensi masuknya tikus ke dalam rumah. Saat membersihkan area yang diduga terkontaminasi kotoran tikus, warga dianjurkan menggunakan masker dan sarung tangan serta menyemprotkan disinfektan terlebih dahulu agar debu tidak beterbangan.

“Penguatan surveilans, pengendalian tikus, edukasi masyarakat, serta pendekatan One Health menjadi langkah penting dalam mencegah munculnya penyakit zoonosis seperti hantavirus. Yang terpenting, masyarakat tetap tenang, waspada, dan memahami langkah pencegahan yang benar,” ujar Arief.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...