7 jam yang lalu
Pangannews.id - Singkong yang selama ini identik dengan pangan kelas bawah perlahan mulai naik kelas. Di Banjarnegara, Jawa Tengah (Jateng), komoditas yang dulu hanya dihargai Rp200 per kilogram itu kini berubah menjadi bahan baku produk pangan bernilai tinggi melalui industri modified cassava flour atau mocaf.
Perubahan itu dirasakan langsung para petani singkong sejak berkembangnya industri tepung singkong lokal dalam beberapa tahun terakhir. Selain harga jual meningkat, singkong kini memiliki pasar yang lebih jelas dan berkelanjutan.
Pengolah mocaf asal Banjarnegara, Riza Azyumardi Azra, mengatakan usaha tersebut berawal dari keprihatinannya terhadap nasib petani singkong yang kesulitan menjual hasil panen dengan harga layak.
“Dulu singkong sering tidak laku dan harganya sangat rendah. Sekarang petani sudah punya kepastian pasar,” katanya di gerai Rumah Mocaf Banjarnegara, seperti dilansir dari laman resmi Pemprov Jateng.
Melalui Rumah Mocaf yang dirintis sejak 2015, Riza menyerap hasil panen petani untuk diolah menjadi berbagai produk turunan pengganti tepung gandum. Produk tersebut mulai dari tepung roti, tepung berbumbu, selondok, chiffon cake, chocolate chips, hingga gula cair berbasis singkong.
Permintaan produk mocaf disebut terus meningkat. Untuk pasar domestik, Rumah Mocaf mampu menjual sekitar 30 hingga 40 ton produk setiap bulan melalui pasar retail, penjualan daring, hingga pesanan pribadi.
Tak hanya pasar lokal, produk berbasis singkong dari Banjarnegara juga mulai menembus pasar luar negeri seperti Oman, Turki, Malaysia, hingga mendapat permintaan dari China.
Riza mengatakan mocaf dinilai memiliki peluang besar karena menjadi alternatif tepung non-gluten yang lebih sehat dan cocok bagi penderita alergi gandum maupun celiac.
Ia berharap tepung lokal seperti mocaf mulai dilibatkan dalam program pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), agar penggunaan pangan lokal semakin luas.
Selain itu, ia mendorong adanya subsidi bagi tepung lokal agar mampu bersaing dengan tepung gandum impor yang saat ini mendominasi pasar nasional.
“Kalau harga bisa bersaing, tepung lokal sebenarnya punya potensi besar,” ujarnya.
Dampak berkembangnya industri mocaf juga dirasakan petani singkong di Desa Parakan, Kecamatan Purwanegara. Petani setempat, Latif, mengatakan harga singkong kini bisa mencapai lebih dari Rp1.000 per kilogram.
Menurutnya, kondisi tersebut jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu ketika petani harus mencari pembeli hingga ke luar kota.
“Sekarang justru kami siap menampung karena pasarnya sudah ada,” katanya.
Petani di desanya mampu menghasilkan hingga 21 ton singkong per tahun dari lahan sekitar satu hingga dua hektare. Sebagian hasil produksi tepung mocaf mereka dipasok ke Rumah Mocaf dengan volume sekitar 10–15 ton per bulan.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai mendorong pemanfaatan pangan lokal berbasis singkong dan jagung sebagai bagian dari diversifikasi pangan daerah.
Data Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah menunjukkan produk seperti mi mocaf, beras jagung, dan beras singkong telah dimasukkan sebagai bagian dari cadangan pangan pemerintah sejak 2022.
Editor : Adi Permana
Jumat, 15 Mei 2026 11:38 WIB
Selasa, 12 Mei 2026 11:30 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...