Senin, 04 Agustus 2025 11:05 WIB
Pangannews.id - Di balik rimbunnya hutan Papua, terdapat satu jenis pisang unik yang tak bisa dikonsumsi begitu saja, tapi menyimpan potensi gizi dan tradisi kuliner yang kaya.
Namanya pisang tongkat langit, tanaman endemik yang tumbuh alami di Pulau Kapotar, Kepulauan Moora, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, serta di wilayah Fakfak, Papua Barat.
Berbeda dari jenis pisang konsumsi pada umumnya, pisang tongkat langit memiliki ukuran besar, mencapai panjang 20–30 sentimeter dan diameter hingga 10 sentimeter.
Kulitnya tebal, dengan daging berwarna oranye. Rasanya tidak terlalu manis, bertekstur lembut seperti mentega, dan terasa sepat jika dimakan tanpa diolah.
Menurut peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Hari Suroto, pisang ini lebih umum dikonsumsi setelah dibakar di atas bara api.
Di Kampung Mambor, Distrik Kepulauan Moora, olahan ini dikenal sebagai pisang tongkat langit bakar dan biasa dijadikan bekal saat berkebun.
"Biasanya dimakan dengan kelapa tua mentah, tanpa diparut. Kombinasi pisang bakar yang lembut dengan kelapa yang gurih menghasilkan rasa yang khas," kata Hari.
Tak hanya unik dalam pengolahan, buah ini juga menyimpan kandungan gizi tinggi. Warna oranyenya menandakan tingginya kandungan betakaroten, senyawa prekursor vitamin A, bahkan melebihi wortel.
"Kadar betakaroten pisang tongkat langit mencapai sekitar 4.960 mikrogram per 100 gram. Mengonsumsi 250 gram saja sudah mencukupi kebutuhan vitamin A harian seseorang," jelasnya.
Tanaman ini tumbuh liar atau ditanam di lahan semi hutan. Batangnya tumbuh tegak lurus setinggi lima hingga tujuh meter, dan buahnya tumbuh menengadah ke langit, ciri khas yang menginspirasi namanya.
Di Fakfak, pisang tongkat langit bahkan masih diperdagangkan lewat sistem barter di Pasar Mambuni Buni, Distrik Kokas.
Selain sebagai sumber pangan lokal, masyarakat mengenal pisang tongkat langit sebagai tanaman obat.
Khasiatnya dipercaya mampu meredakan panas dalam, membersihkan ginjal, membantu mengatasi diabetes, menjaga daya tahan tubuh, dan memperlancar pencernaan.
Editor : Adi Permana
Selasa, 12 Mei 2026 15:49 WIB
Selasa, 12 Mei 2026 15:36 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...