Glutamat pada Daging Burung Kareo Padi Jadi Daya Tarik Kuliner Khas Siantar

Pers Pangannews

5 jam yang lalu

news
Burung kareo padi atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai burung ruak-ruak. (Foto : BRIN)

Pangannews.id - Burung kareo padi atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai burung ruak-ruak selama ini identik dengan kuliner khas di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara. Daging burung rawa tersebut dikenal memiliki cita rasa gurih dan menjadi salah satu menu yang banyak dicari wisatawan maupun warga lokal.

Kini, burung bernama ilmiah Amaurornis phoenicurus itu mulai dilirik sebagai objek penelitian pangan oleh peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Peneliti dari Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Widya Pintaka Bayu Putra, mengungkapkan daging burung kareo padi memiliki profil nutrisi yang cukup menonjol, terutama kandungan glutamat yang berperan menciptakan rasa gurih alami pada makanan.

“Tingginya kandungan asam glutamat dan asam lemak tertentu ini memberikan gambaran mengapa burung daging kareo padi memiliki cita rasa khas dan diminati secara luas sebagai bahan pangan fungsional maupun kuliner tradisional,” kata Bayu, dikutip dari laman resmi BRIN.

Dalam penelitiannya bertajuk “Potensi Burung Kareo Padi (Amaurornis Phoenicurus) untuk Produksi Daging di Indonesia”, Bayu membandingkan kandungan nutrisi daging kareo padi dengan sejumlah jenis unggas lain seperti ayam, puyuh, pheasant, dan partridge.

Hasilnya, daging kareo padi disebut memiliki kandungan asam lemak palmitic dan saturated fatty acid (SFA) yang lebih tinggi dibanding beberapa jenis unggas tersebut.

Selain itu, kandungan glutamat pada daging burung kareo padi tercatat mencapai 0,48 persen.

“Berdasarkan uji sampel, terdeteksi 33 jenis asam lemak. Di mana komposisi asam lemak antara lain palmitic, stearic, elaidic, dan linoleic menunjukkan angka yang sangat tinggi,” ujar Bayu.

Penelitian ini sekaligus membuka peluang pemanfaatan kareo padi sebagai sumber protein alternatif dan bahan pangan bernilai ekonomi, terutama di daerah yang selama ini telah menjadikannya bagian dari kuliner tradisional.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...