4 jam yang lalu
Pangannews.id - Masalah banjir yang terus berulang di Kabupaten Bandung kembali jadi sorotan. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai, persoalan itu bukan sekadar akibat curah hujan tinggi, melainkan kesalahan dalam pengelolaan ruang dan lingkungan.
Berbicara dalam rapat paripurna DPRD Kabupaten Bandung, Senin (20/4/2026), Dedi secara terbuka mengkritik arah pembangunan yang dinilai mengabaikan fungsi lahan.
“Jujur saja, tata ruang Bandung ini salah. Sawah dibuat jadi pabrik,” kata dia.
Menurut Dedi, kondisi geografis Bandung yang berupa cekungan membuat wilayah ini rentan tergenang. Karena itu, ia mendorong penambahan danau sebagai ruang tampung air, bukan sekadar mengandalkan drainase.
“Bandung itu harus diperbanyak danau karena Bandung itu adalah bendungan,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat, lanjut dia, siap terlibat dalam pembangunan danau, khususnya di lahan yang sudah disiapkan pemerintah daerah. Ia menilai, tanpa ruang tampung air yang memadai, banjir akan terus berulang meski berbagai proyek infrastruktur dijalankan.
Selain tata ruang, Dedi juga menyinggung persoalan sampah yang memperparah banjir. Penanganannya, kata dia, akan diarahkan melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang tengah disiapkan bersama sejumlah daerah di Bandung Raya.
Di sisi lain, kawasan Bandung selatan dinilai perlu dikembalikan fungsinya sebagai daerah resapan. Dedi mendorong penanaman tanaman keras seperti teh dan kopi untuk menahan laju air sekaligus memberi nilai ekonomi.
Sementara itu, Bupati Bandung Dadang Supriatna mengakui persoalan banjir tidak bisa diselesaikan secara parsial. Ia menekankan perlunya kerja bersama antarwilayah di Bandung Raya.
“Ini bukan hanya urusan satu daerah. Harus ada kolaborasi, karena aliran airnya lintas wilayah,” kata Dadang.
Ia juga menyatakan pemerintah daerah akan memperkuat program penghijauan dan pemberdayaan petani sebagai bagian dari upaya jangka panjang menekan risiko banjir sekaligus mendorong ekonomi masyarakat.
Editor : Adi Permana
Senin, 20 April 2026 13:37 WIB
Senin, 20 April 2026 12:11 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...