Biogas hingga Kompor Listrik, Opsi Saat LPG Kian Mahal

Pers Pangannews

4 jam yang lalu

news
Biogas hingga kompor listrik, opsi saat LPG kian mahal. (Foto : Pertamina)

Pangannews.id - Kenaikan harga elpiji nonsubsidi memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Di Jawa Barat, harga tabung 12 kilogram kini menyentuh Rp228.000, sementara ukuran 5,5 kilogram mencapai Rp107.000 per tabung sejak 18 April 2026.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai, kondisi ini tidak bisa dihadapi dengan ketergantungan pada satu sumber energi. Ia mendorong warga mulai melirik alternatif lain, termasuk yang selama ini dianggap sepele.

Salah satunya biogas, yang dihasilkan dari pengolahan kotoran ternak. Menurut Dedi, praktik ini bukan hal baru dan sudah berjalan di sejumlah wilayah, seperti di Kabupaten Bandung Barat.

“Bisa mengelola kotoran sapi berubah jadi energi gas. Sampah juga bisa, listrik juga bisa,” kata Dedi, Senin (20/4/2026).

Ia menyebut, energi dari biogas cukup kuat untuk kebutuhan memasak harian. Selain mengurangi beban biaya rumah tangga, cara ini juga dinilai menyelesaikan persoalan limbah.

Di luar itu, Dedi juga menyinggung opsi yang lebih sederhana. Untuk masyarakat perdesaan, kayu bakar masih bisa dimanfaatkan. Sementara di wilayah perkotaan, kompor listrik dianggap lebih realistis sebagai pengganti.

“Harus disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing,” ujarnya.

Kenaikan harga ini tidak berlaku untuk elpiji subsidi 3 kilogram. Namun, bagi pengguna nonsubsidi, selisih harga yang cukup signifikan membuat sebagian warga mulai mencari cara untuk menekan pengeluaran.

Dedi menilai, kemampuan beradaptasi masyarakat menjadi faktor penting di tengah tekanan biaya energi. “Saya meyakini warga Indonesia ini warga yang inovatif dan cerdas,” pungkasnya.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...