7 jam yang lalu
Pangannews.id - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumedang mulai mengandalkan teknologi kultur jaringan untuk memperluas budidaya Ubi Cilembu, komoditas khas daerah yang selama ini dikenal memiliki rasa manis menyerupai madu setelah dipanggang.
Langkah tersebut ditempuh menyusul meningkatnya permintaan pasar, termasuk untuk kebutuhan ekspor dan produk olahan, sementara produksi masih kerap terkendala faktor cuaca dan ketergantungan pada karakter tanah tertentu.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumedang Tono Suhartono mengatakan pengembangan Ubi Cilembu kini dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pembibitan hingga hilirisasi produk.
“Pengembangan Ubi Cilembu ini terus kita dorong di hulu melalui kultur jaringan dan juga hilirisasi agar bisa memperluas produksi sekaligus meningkatkan daya saing pasar,” kata Tono.
Teknologi kultur jaringan menjadi salah satu solusi untuk memperbanyak bibit unggul dan memperluas area tanam tanpa sepenuhnya bergantung pada kondisi tanah asal Desa Cilembu.
Sejumlah uji coba penanaman telah dilakukan di berbagai wilayah dengan melibatkan kelompok tani dan aparat kewilayahan. Sedikitnya 5.000 bibit telah ditanam di 26 titik kerja sama.
Selama ini, Ubi Cilembu dikenal sebagai salah satu komoditas khas Sumedang karena memiliki cita rasa berbeda dibandingkan ubi jalar pada umumnya. Setelah dipanggang, ubi tersebut menghasilkan cairan manis menyerupai madu yang menjadi daya tarik utama di pasaran.
Karakteristik itu pula yang dinilai memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar global.
Saat ini, sentra produksi Ubi Cilembu tersebar di empat kecamatan utama, yakni Pamulihan, Rancakalong, Tanjungsari, dan Sukasari dengan total luas lahan lebih dari 462 hektare.
Sementara Desa Cilembu sebagai daerah asal memiliki sekitar 229 hektare lahan budidaya dengan produksi rata-rata mencapai 1.600 hingga 1.900 ton per tahun.
Produktivitas Ubi Cilembu di Sumedang berkisar 15 hingga 20 ton per hektare dan bisa meningkat hingga 40 ton per hektare dalam kondisi optimal.
Namun demikian, pengembangan komoditas tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Selain faktor cuaca, kontinuitas produksi menjadi persoalan utama seiring meningkatnya permintaan pasar.
“Selain itu, tantangan kita adalah menjaga kontinuitas produksi karena permintaan pasar terus meningkat,” ujar Tono.
Ia menyebut kebutuhan Ubi Cilembu untuk produk olahan dan ekspor saat ini mencapai 12 hingga 40 ton per bulan.
Selain memperkuat budidaya, Pemkab Sumedang juga mulai mendorong hilirisasi melalui pengembangan produk UMKM berbahan dasar Ubi Cilembu. Salah satunya bakpia ubi yang memanfaatkan rasa manis alami tanpa tambahan gula.
“Ubi Cilembu ini bisa diolah menjadi berbagai produk, termasuk bakpia tanpa gula tambahan karena sudah manis alami,” pungkasnya.
Editor : Adi Permana
Senin, 18 Mei 2026 12:54 WIB
Senin, 18 Mei 2026 12:36 WIB
Jumat, 15 Mei 2026 13:10 WIB
Rabu, 13 Mei 2026 16:48 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...