20 jam yang lalu
Pangannews.id - Musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panas hingga akhir 2026 mulai diantisipasi di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Selain menyiapkan cadangan beras, upaya memperkuat ketahanan pangan di tingkat rumah tangga menjadi salah satu langkah yang ditempuh untuk mengurangi dampak jika pasokan pangan terganggu.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Kutai Timur, Alidi, mengatakan pemerintah daerah menyiapkan cadangan beras sebanyak 83,6 ton sebagai stok siaga apabila terjadi kerawanan pangan atau gejolak harga selama musim kemarau.
Meski demikian, menurut dia, ketersediaan cadangan pangan saja tidak cukup. Masyarakat juga didorong memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam sayuran, palawija, maupun tanaman pangan lainnya sehingga sebagian kebutuhan sehari-hari dapat dipenuhi dari lingkungan rumah.
"Cadangan beras memang sudah kami siapkan untuk kesiapsiagaan. Namun, ketahanan pangan dari rumah tangga juga terus kami dorong," kata Alidi di Sangatta, Kamis.
Melalui program Teras Pangan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman), kelompok dasa wisma di sejumlah desa menerima bantuan benih sayuran, polybag, dan pupuk kompos. Program tersebut diarahkan agar pekarangan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat menjadi sumber pangan keluarga.
Menurut Alidi, kebiasaan menanam kebutuhan dapur sendiri dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pasokan pasar, terutama ketika harga bahan pangan mengalami kenaikan. Jika hasil panen melebihi kebutuhan keluarga, hasilnya juga dapat dijual untuk menambah pendapatan.
Selain penguatan pangan di tingkat rumah tangga, pemerintah daerah menyiapkan dua langkah lain, yakni menjaga cadangan pangan pemerintah dan memperluas pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM).
Cadangan beras sebanyak 83,6 ton yang berasal dari program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) saat ini disimpan di Perum Bulog Samarinda. Stok tersebut disiapkan untuk membantu penanganan apabila terjadi kondisi darurat pangan maupun lonjakan harga di pasaran.
Sementara itu, Gerakan Pangan Murah akan dimanfaatkan sebagai salah satu upaya menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok apabila terjadi gejolak selama musim kemarau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprakirakan sejumlah wilayah di Indonesia akan memasuki puncak musim kemarau pada paruh kedua tahun ini. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produksi pertanian di sejumlah daerah, terutama yang masih bergantung pada curah hujan.
Editor : Adi Permana
Senin, 13 Juli 2026 08:04 WIB
Senin, 13 Juli 2026 07:56 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...