Terapkan Budidaya Smart Green House, Petani Milenial Kudus Hasilkan Ratusan Juta

Pangannews.id

Selasa, 05 Oktober 2021 18:45 WIB

news
Foto : Stefanus Rangga Santoso, Petani Muda Yang Sukses Menerapkan Budidaya Smart Green House.

PanganNews.id Jakarta – Melalui petani milenial, Kementerian Pertanian tidak pernah berhenti berupaya untuk mengubah mindset anak-anak muda tentang pertanian. Kiprah petani milenial asal Kudus, Jawa Tengah, Stefanus Rangga Santoso (27), bisa dijadikan inspirasi.

Bagaimana tidak, Rangga yang berlatar belakang pendidikan Desain Interior, menjelma menjadi petani muda yang sukses setelah menerapkan budidaya Smart Green House.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, mengatakan smart green house adalah cermin dari implementasi pertanian modern dengan mengedepankan basis teknologi artificial intelegent. 

“Untuk membuat sektor pertanian maju, harus diintervensi oleh hadirnya kemajuan dan perkembangan teknologi modern. Pertanian tidak bisa diolah lagi dengan cara tradisional yang memakan biaya, waktu, tenaga dan juga pikiran. Yang jelas kita tidak bisa mencoba dengan peradaban yang lalu," katanya.  

Dijelaskannya, smart green house adalah metode hidroponik yang bisa dikendalikan secara otomatis berdasarkan sensor ataupun jarak jauh hanya dengan menggunakan smartphone berbasis Android. 

"Konsep ini merupakan sistem ramah lingkungan yang bisa mengendalikan kelembaban, suhu, nutrisi dan cuaca. Dengan begitu budidaya kita akan jauh lebih optimal," kata Mentan SYL. 

Kepala Badan Peyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengatakan bahwa smart green house adalah inovasi terbaru yang mampu mengendalikan suhu microclimate pada sebuah lahan pertanian modern. 

Penggunaan green house diyakini dapat menghasilkan produksi pangan berkualitas yang berbasis pada konsumusi dalam negeri serta peningkatan ekspor. 

"Smart green house itu sebetulnya bagian dari smart Agriculture yang sedang kita bangun sesuai arahan Bapak Menteri. Intinya ini adalah pertanian modern yang memanfaatkan informasi teknologi khususnya internet of thing atau artifisial intelijen. Jadi semua yang di sini sudah menggunakan sensor yang dilengkapi dengan big data," katanya.

Pemanfaatan IoT ini juga yang dilakukan Stefanus Rangga Santoso. Mengenyam pendidikan Desain Interior di Raffles Design Institute (Singapura), serta menjadi agen properti disela-sela aktifitas kuliahnya, tak membuat Rangga lupa akan Indonesia. 

Dari menjadi agen properti ia pun memiliki tabungan dengan jumlah fantastik yang dijadikannya modal untuk memulai usaha pertanian.

Rasa penasaran pada sektor pertanian telah ia miliki ia masih mengenyam pendidian di sekolah menengah atas (SMA). Saat itu harga cabai melambung hingga Rp 120.000. 

Bersama kedua temannya, Rangga mulai membuat rumah tanam mini di halaman rumah untuk budidaya cabai. Tetapi semua itu terhenti ketika ia harus melanjutkan pendidikan ke negara tetangga.

Sepulangnya ke Indonesia pada tahun 2018, ia memulai bisnis pertanian dengan modal sendiri hasil jerih payah kerja sambilan menjadi agen properti. 

“Tabungan itu pun akhirnya habis untuk biaya belajar dan bereksperimen,” katanya. 

Rangga mencoba menggunakan irigasi tetes dan rumah tanam sederhana untuk budidaya cabai dan bawang merah.

Di luas lahan 1,3 hektare yang diberi nama Laguna Greenhouse, Rangga mendirikan 18 rumah tanam dengan populasi 1.400-1.800 tanaman melon per rumah tanam. Bukan tanpa alasan Rangga menentukan budidaya melon secara hidroponik sebagai komoditas utamanya. 

“Tinginya permintaan pasar akan melon, panen hidroponik dengan hasil terukur, seragam, dan optimal menjadi alasan utama saya,” papar Rangga.

Sebagai seorang milenial, Rangga menerapkan manajemen Internet of Thing (IOT) atau terkoneksi pada jaringan internet dalam berbudidaya. 

“Saya menggunakan inovasi greenhouse dengan pola tanam tanpa pestisida sehingga aman dikonsumsi. Adanya teknologi sangat membantu saya, kika kandungan nutrisi berubah, terjadi kebocoran, suhu, atau kelembapan di rumah tanam tidak sesuai, alat akan menghubungkan pada ponsel pintar operator untuk segera memperbaiki masalah,” jelasnya.

Ia menambahkan, dengan sistem serba otomatis akan menjamin pasokan secara kontinyu dan hasilnya premium.  

“Pembeli tentu akan lebih senang jika pasokan kontinu dan mutu produk jelas,” kata Rangga. 

Permasalahan produk pertanian di tanah air pasokan tidak menentu dan petani tidak mengerti mutu produk. Selain penerapan teknologi, edukasi sumber daya manusia di bidang pertanian pun penting agar bisnis pertanian bisa langgeng. 

"Untuk produksi kami (CV Santoso Agro) mampu memasok melon premium dengan kapasitas produksi 3,7-4 ton melon per 20 hari dengan harga jual melon premium itu rata-rata Rp 40.000. Bicara omset kira-kira Rp 148 juta-Rp 160 juta per 20 hari,” terangnya.

Founder CV Santoso Agro ini pun terus berinovasi dalam bidang pertanian. Tidak hanya melon yang ditanam, bawang merah dan durian pun mulai ia kembangkan. Saat ini ia telah memiliki lebih dari 20 orang karyawan. 

Melihat keberhasilan Rangga, tak salah kiranya Kementerian Pertanian (Kementan) mendapuk dirinya menjadi salah seorang narasumber pada Milenial Agriculture Forum (MAF) yang diselenggarakan secara Hybrid, 2 Oktober 2021 lalu.  

Direktur Polbangtan Bogor, Detia Tri Yunandar menjelaskan melalui tema MAF kali ini, Kementan mencoba memberikan wawasan kepada para milenial serta mendorong dan menarik minat milenial untuk memanfaatkan peluang dan berani berbisnis hortikultura dengan menggunakan smart green house. 

“Kami mengajak milenial untuk mengubah mindset, bahwa pertanian tidak lagi konvensional. Pertanian kedepan adalah high technology yang menerapkan IOT dan berbasis IT sejalan perkembangan saat ini yang sudah memasuki era industry 4.0 serba digital dan berbasis internet,” ujarnya. 

“Kami hadirkan narasumber Netti Tinaprilla selaku akademisi dan seorang pengusaha sukses hortikultura, Stefanus Rangga Santoso serta Duta Petani Milenial Hendra Hidayat untuk membuka wawasan generasi milenial bahwa sektor pertanian adalah sektor menjanjikan,” ungkap Detia.


Kolom Komentar

You must login to comment...