Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Modernisasi Perbenihan Padi

Bagikan
Foto : Entang Sastraatmadja.
Foto : Entang Sastraatmadja.

PanganNews.id Jakarta - OLEH : Entang Sastraatmadja

Tanggal 12 Nopember 2021 telah dilaksanakan Workshop tentang Modernisasi Perbenihan Padi yang ke tiga, setelah sebelum nya dilaksanakan pembahasan yang mendalam di Cirebon, Jawa Barat dan Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Workshop yang dilanjutkan kunjungan ke lapangan ini, menjadi sangat penting untuk dibewarakan, paling tidak agar terbangun "jaringan berpikir" yang sama diantara para pemangku kepentingan terhadap filosofi Modernisasi Perbenihan.

Dalam Workshop ini, setidak nya ada empat aspek yang butuh pencermatan dengan seksama. Pertama terkait dengan aspek kebijakan dan regulasi yang diharapkan mampu memayungi modernisasi perbenihan. Kedua, terkait dengan sistem produksi dan pemasaran nya. Ketiga, berhubungan dengan sisi industri yang melibatkan kalangan pengusaha/Asosiasi dan keempat, terkait dengan para pengguna di lapangan, khusus nya para pelaku utama petani hibrida.

Pilihan tema Modernisasi Perbenihan cukup tepat, karena sekarang ini, kita sedang berjuang keras untuk mampu meningkatkan produksi dan produktivitas padi menuju swasembada sekalian juga dengan upaya percepatan peningkatan kesejahteraan petani nya. Hal ini akan terwujud, sekira nya kita memiliki Grand Desain dan Road Map yang terukur dari Modernisasi Perbenihan itu sendiri.

Sebagaimana diketahui, modernisasi bisa dikatakan sebagai perubahan sosial yang direncanakan. Modernisasi bisa juga diartikan sebagai suatu proses perubahan dari masyarakat tradisional ke wujud masyarakat yang modern. Faktor utama penyebab modernisasi adalah berkembang pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat.

Kemajuan dalam berbagai bidang merupakan salah satu contoh modernisasi. Suatu keadaan dikatakan dalam proses modernisasi apabila masyarakatnya memiliki sikap yang terbuka dengan hal-hal baru. Adanya perubahan dari berbagai bidang seperti ekonomi hingga transportasi semua dilakukan dengan matang.

Sasaran besar "revolusi benih padi " adalah inovasi benih padi varietas super dengan lima nilai unggul. Pertama, produktivitasnya tinggi, minimal 10 ton gabah kering giling (GKG) per hektar, sehingga bisa menghemat penggunaan lahan. 

Kedua, umurnya pendek yang memungkinkan frekuensi tanam tinggi , 2.5-3.0 kali/tahun, sehingga menghemat lahan juga. 

Ketiga, super-responsif pada pupuk kimia sehingga hemat penggunaan pupuk, sekaligus ramah ekologis.

Keempat, tahan cekaman abiotik seperti kekeringan, banjir, dan salinisasi akibat perubahan iklim global.  Kualitas tahan kekeringan dibutuhan untuk antisipasi keterbatasan air irigasi. Kelima, tahan cekaman biotik yaitu hama dan penyakit sehingga hemat penggunaan pestisida. Kualitas ini perlu sebagai antisipasi terhadap anomali serangan hama dan penyakit akibat ketak-pastian iklim global.

Kehadiran inovasi dalam modernisasi benih, betul-betul sangat dimintakan. Inovasi benih padi yang dimungkinkan memiliki nilai-nilai unggul itu adalah padi hibrida, padi produk rekayasa genetik (PRG) dan padi produk iradiasi nuklir (PIN). 

Pertama, padi hibrida, sudah dibuktikan China sebagai solusi peningkatan produktivitas. Dengan rerata produktivitas 7.5 ton/ha (rekor percontohan 17.7 ton/ha), usahatani padi hibrida (54 persen areal) di sana menyumbang  57.5 persen produksi padi negara itu.

Indonesia kebalikannya. Sepanjang 2013-2017 rerata luas areal tanam padi hibrida per musim tanam (MT) hanya 1.2 persen. Itupun cenderung menciut dari 1.8 persen pada musim hujan (MH) 2013 menjadi 0.4 persen pada MH 2017.   Kisaran produktivitasnya 7-12 ton GKG/ha. Karena sempit,  kontribusinya terhadap produksi padi nasional belum signifikan.

Sampai 2013 jumlah varietaspadi hibrida yang dilepas di Indonesia tercatat 140 varietas, dari swasta dan Balitbangtan. Semuanya dengan potensi produktivitas di atas 10 ton/ha.

Tapi dari jumlah itu hanya beberapa yang berterima di kalangan petani. Antara lain SL8-SHS, Sembada, Mapan, Hipa, Intani, dan Arize. Kisaran potensi produktivitasnya 10-15 ton/ha, riil lapangan 7.5-10.5 ton/ha.

Jenis-jenis padi hibrida itu juga tahan atau agak tahan terhadap tungro, kresek (hawar daun bakteri) prototype tertentu, blas (blast), dan wereng batang cokelat biotipe tertentu. Artinya, tergolong hemat pestisida.

Kedua, padi PRG atau transgenik, berpotensi sebagai solusi untuk resistensi terhadap cekaman biotik dan abiotik. Itu sudah terbukti dari hasil-hasil riset padi PRG Divisi Biologi Molekuler, Puslit Bioteknologi LIPI. Lewat teknologi rekayasa genetik, LIPI sudah menghasilkan sejumlah prototipe padi inbrida PRG yang tahan penggerek batang, blas,  kekeringan, kebanjiran, dan salinisasi.

Tapi padi PRG di Indonesia masih kontroversi, terkait satus keamanan hayatinya. Masih harus dipastikan padi PRG itu aman lingkungan, aman pangan, dan aman pakan. Setelah itu baru bisa dikomersilkan untuk diadopsi petani.

Ketiga, padi PIN kreasi Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), berpotensi sebagai solusi untuk produktivitas dan resistensi terhadap cekaman biotik dan abiotik. Benih padi PIN dipapari radioaktif sehingga mengalami mutasi genetik menuju sifat yang diinginkan. Misalnya produktivitas tinggi, tahan kekeringan, atau tahan hama dan penyakit.

Batan sudah merilis sedikitnya 20-an varietas padi inbrida PIN, dengan nilai unggul potensi produktivitas tinggi (8-10 ton/ha), umur pendek dan tahan wereng batang cokelat. Varietas yang sudah diadopsi petani antara lain Inpari Sidenuk, Diah Suci, dan Cilosari.

Untuk mempercepat pencapaian semangat diatas, sangatlah dibutuhkan revokusi di bidang perbenihan padi ini. Setidak nya ada 3 hal yang dapat dilakukan.

Pertama, menetapkan suatu kebijakan strategis "revolusi benih padi" sebagai basis modernisasi pertanian pangan padi menuju Pertanian 4.0.

Kedua, menetapkan percepatan dan perluasan skala penerapan teknologi hibrida, rekayasa genetik, dan iradiasi nuklir sebagai strategi inovasi benih-benih padi varietas super, sebagai solusi peningkatan produksi yang terkendala keterbatasan lahan dan air, kelangkaan sumberdaya terbarukan, dan dampak negatif perubahan iklim global.w

Ketiga, memfasilitasi sinergi industri-industri benih dan lembaga-lembaga riset perbenihan nasional, berupa dukungan pendanaan dan regulasi, untuk mendorong percepatan inovasi benih padi super, baik hibrida maupun PRG dan PIN, sebagai basis ketahanan pangan nasional.

Melalui implementasi langkah-langkah strategis itu, niscaya "revolusi benih padi" menuju Agroindustri Benih 4.0 akan terwujud. Inilah basis, suatu "syarat harus" bagi modernisasi pertanian agar tiba di Pertanian 4.0, level penjamin kedaulatan pangan nasional.

Akhir nya penting diuraikan terkait manfaat benih bermutu.

Beberapa manfaat penggunaan benih bermutu : mempertahankan sifat-sifat unggul termasuk hasil yang tinggi dari varietas yang bersangkutan. Menurut beberapa kajian penggunaan benih bermutu mampu menaikkan daya hasil 5-15% di banding dengan benih tidak bermutu sekaligus menghemat penggunaan benih perhektar. (PENULIS, KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT).

Ditulis olehPangannews.id

pangannews

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal