Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Budidaya Hidroganik Lestari di Pekarangan

Bagikan
Foto : Budidaya Hidroganik Sayuran.
Foto : Budidaya Hidroganik Sayuran.

PanganNews.id Bengkulu - Oleh: Yahumri1 dan Agus Darmadi2

1Peneliti Budidaya Tanaman BPTP Balitbangtan Bengkulu

1Koordinator Laboratorium Diseminasi BPTP Balitbangtan Bengkulu

Pendahuluan

Budidaya hidroganik sayuran di atas kolam berikut memelihara ikan pada kolam yang juga dikenal dengan nama aquaponik, tentu sudah tidak asing lagi bagi kita dan telah banyak dilakukan oleh masyarakat dalam upaya memanfaatkan lahan pekarangan terutama di perkotaan. Budidaya hidroganik pada prinsipnya adalah menanam tanaman dengan memanfaatkan air kolam pada budidaya ikan sebagai sumber nutrisi dan pengairan bagi tanaman. Air kolam dialirkan pada perangkat budidaya tanaman menggunakan pompa sama seperti perangkat yang biasa dibuat untuk budidaya hidroponik, kemudian air dikembalikan lagi ke kolam. Dari sisi budidaya ikan, sirkulasi air bermanfaat untuk meningkatkan kandungan oksigen terlarut dalam air sehingga oksigen tersedia cukup bagi ikan, dan aliran air juga mengangkat residu gas metan dari kotoran ikan di dasar kolam sehingga dapat mengurangi resiko ikan keracunan.

Budidaya hidroganik praktis dan mudah dilakukan serta memberikan nilai tambah dan efisiensi karena faktor produksi berupa pupuk untuk tanaman tersedia dari kolam yang berasal dari kotoran ikan. Dengan demikian, maka sayuran yang dihasilkan adalah sayuran organik yang sangat baik dikonsumsi untuk kesehatan tubuh kita.

Azolla telah banyak dimanfaatkan sebagai pakan alternatif dalam budidaya ternak, unggas maupun ikan. Sedangkan eceng gondok selain pertumbuhannya pesat, dengan perakaran yang banyak tentu saja menyerap hara yang banyak pula dari air sehingga bila dibuat kompos dapat dijadikan sebagai media tanam sayuran pada sistem budidaya hidroganik. Fungsi lain dari tanaman eceng gondok ini adalah sebagai peneduh air kolam dari terik matahari sehingga baik untuk kehidupan ikan karena suhu air tidak meningkat drastis pada siang hari.

Inovasi Budidaya Hidroganik

Salah satu inovasi Model Budidaya Hidroganik yang didisplaykan di pekarangan kantor BPTP Bengkulu adalah inovasi optimalisasi potensi ekosistem perairan dengan menciptakan ekosistem perairan buatan melalui pemanfaatan tanaman azolla sebagai sumber pakan ikan dan eceng gondok sebagai sumber nutrisi dan media tanam sayuran. Seperti kita ketahui bahwa tumbuhan air (azolla dan eceng gondok) memiliki laju pertumbuhan yang cepat yang secara kuantitatif menghasilkan biomassa yang banyak, tentu saja mengandung hara yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan atau pupuk.

Sistem budidaya hidroganik yang diterapkan pada model yang didisplaykan ini berkonsep zero waste-low input dengan memanfaatkan secara optimal potensi sumberdaya kolam untuk menghasilkan sayuran sehat/organik. 

Diagram alir sistem budidaya hidroganik dengan konsep zero waste-low input.

 Budidaya hidroganik dengan pakan ikan berupa azolla dan media tanam kangkung berupa kompos eceng gondok ditanam secara bersamaan pada kolam.

Perangkat sistem budidaya hidroganik lestari

1. Kolam; sebagai tempat memelihara ikan, tanaman azolla dan eceng gondok. Kolam bisa berupa kolam terpal, kolam viber, kolam tanah, atau kolam bak semen.

2. Instalasi budidaya tanaman (prinsip kerjanya sama seperti pada budidaya hidroponik), berupa instalasi dengan sirkulasi air sistem DFT (Deep Flow Technique) atau aliran yang memiliki genangan pada talang. Bagian-bagian instalasi terdiri atas; pompa dan pipa untuk menyalurkan air, talang asbes penampung aliran air sekaligus tempat meletakkan pot, kayu dudukan talang, serta pot tanaman berupa botol air kemasan yang dibelah dan diberi lubang pada bagian bawahnya. 

Perangkat budidaya hidroganik pada kolam bak semen dengan talang asbes.

3. Keramba penampung azolla sebagai stok pakan ikan. Jumlah keramba disesuaikan dengan kebutuhan sesuai dengan banyaknya ikan yang dipelihara dan azolla yang ditanam.

Keramba penampung Azolla

4. Komposter berupa drum, ember atau gentong air bertutup yang bagian dasarnya diberi lubang sebagai tempat pembuangan air dan untuk sirkulasi udara.

Komposter dari gentong air

Teknis Budidaya

Budidaya pada Kolam (ikan, azolla dan eceng gondok)

1. Kolam diisi air dan biarkan sekitar 1 hingga 2 minggu sebelum ditebari bibit ikan, berupa ikan nila, lele, mas, gurami atau ikan patin.

2. Setelah pengisian air kolam, bibit atau tanaman eceng gondok telah dapat ditebar pada kolam dengan jumlah secukupnya.

Panen eceng gondok dapat dilakukan separohnya setelah memenuhi permukaan kolam dan selanjutnya dilakukan pemanenan dengan interval 2 minggu. Hasil panen dibuat kompos menggunakan komposter untuk media tanam sayuran dan memupuk azolla.

Hasil panen eceng gondok sebagai bahan kompos.

Pembuatan kompos eceng gondok; eceng gondok dicacah lalu dimasukkan ke dalam komposter dan diberi larutan mikroba atau dapat juga dicampurkan dengan kompos setengah jadi secukupnya sebagai starter, lalu ditutup dan biarkan selama sekitar 3 minggu untuk proses dekomposisi.

3. Sebelum atau bersamaan dengan penebaran bibit ikan, dilakukan juga penebaran bibit azolla baik pada keramba (sebagai stok bibit awal) maupun pada kolam (sebagai pakan awal setelah ikan mulai membesar) dengan kebutuhan bibit berkisar 50-70 gram per meter persegi. Pada kondisi optimal pertumbuhan azolla dapat mencapai 30% setiap harinya.

Azolla telah tumbuh pada keramba dan kolam.

4. Pakan ikan berupa pelet dapat diberikan sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan ikan. Setelah ikan membesar, ikan akan mulai memakan azolla yang ditanam pada kolam dan pemberian pakan pelet dapat dikurangi. Setelah azolla pada kolam habis, selanjutnya pemberian pakan azolla diambil dari keramba stok sampai akhir pemeliharaan atau panen ikan sesuai ukuran yang dikehendaki.

Budidaya pada Talang Hidroganik (Tanaman Kangkung dan Azolla)

1. Setelah instalasi terpasang dan siap, talang telah dapat ditanami azolla dengan cara bibit disebar merata pada talang sebanyak 50-70 gram per meter persegi talang. Talang sebelumnya ditebari pupuk kompos secukupnya agar pertumbuhan azolla pesat. Setelah azolla bertumpuk (setelah 2-3 minggu), dapat dilakukan pemanenan sebanyak 30-50 persen, selanjutnya pemanenan dapat dilakukan setiap 3 hari sekali.

Azolla telah tumbuh dan berkembangbiak.

2. Bila kompos untuk media tanam telah jadi, selanjutnya dapat dilakukan pengisian media pada pot, lalu semai benih kangkung 5-6 biji per lubang dengan 3 lubang tanam per pot, selanjutnya pot diletakkan pada tempat teduh selama 1 minggu (tanaman kangkung telah tumbuh) sebelum diletakkan pada talang.

Tanaman kangkung telah berumur 1 minggu dan siap dipindahkan pada talang.

3. Pemindahan pot tanaman pada talang disusun secara legowo agar talang juga dapat ditanami azolla secara bersamaan (tumpang sari). 

Penambahan media berupa kompos eceng gondok pada tanaman kangkung dilakukan setelah 1 minggu dipindahkan pada talang. Sedangkan untuk azolla, dilakukan pemupukan dengan kompos dengan cara ditebar merata secukupnya pada talang setiap minggu sekali.

Tumpang sari kangkung dan azolla.

4. Pemeliharaan instalasi dilakukan dengan memeriksa sistem sirkulasi air secara berkala dan bersihkan jika terjadi penyumbatan oleh lumut atau kotoran.

5. Panen tanaman kangkung dapat dilakukan pada berumur 42 hari setelah semai sedangkan azolla dipanen setiap 3 hari sekali.

 

Ditulis olehPangannews.id

pangannews

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal