Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

"Pengendalian TBC Sapi Menular ke Manusia"

Bagikan
Foto : Drh. Pudjiatmoko, Ph.D, Medik Veteriner Ahli Utama.
Foto : Drh. Pudjiatmoko, Ph.D, Medik Veteriner Ahli Utama.

PanganNews.id Jakarta - Oleh Drh. Pudjiatmoko, Ph.D, Medik Veteriner Ahli Utama

Berdasarkan hasil laporan global TB tahun 2020, Indonesia menduduki tempat ke 3 negara dengan beban tuberkulosis (TBC) terbesar di dunia. Indonesia telah menetapkan Strategi penanggulangan Tuberkulosis 2020-2024 yang dilaksanakan untuk mencapai target penurunan insidensi tuberkulosis dari 319 per 100.000 penduduk di tahun 2017 menjadi 190 per 100.000 penduduk serta menurunkan angka kematian akibat tuberkulosis dari 42 per 100.000 penduduk di tahun 2017 menjadi 37 per 100.000 penduduk di tahun 2024.

Bovine tuberculosis (TBC sapi) disebabkan oleh Mycobacterium bovis telah dilaporkan menyebabkan 6-30% kasus TBC pada manusia di USA pada susu yang belum terpasteurisasi. Di San Diego lebih dari 8% dari seluruh kasus TBC pada manusia disebabkan oleh M.bovis.

Pada pertengahan bulan November 2021 telah dilaksanakan rapat penetapan zoonosis prioritas nasional di Bali yang dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Keempat kementerian telah menyepakati enam zoonosis prioritas untuk dicegah dan dikendalikan di Indonesia.

Enam zoonosis yang disepakati menjadi prioritas nasional dimaksud adalah (1) zoonosis yang disebabkan virus Influenza (Avian Influenza dan Swine Influenza); (2) zoonosis yang disebabkan virus Corona (COVID-19 dan MERS); (3) Rabies; (4) Anthrax; (5) Tuberkulosis zoonosis; dan Leptospirosis.

Bovine tuberculosis (TBC sapi) termasuk salah satu penyakit prioritas nasional diurutan ke 5 yaitu Tuberkulosis zoonosis seperti tersebut di atas. Dalam artikel ini dibahas pengenalan penyakit, pengendalian dan penanggulan penyakit Bovine tuberculosis, penyakit yang dapat ditularkan dari sapi ke manusia.

Meskipun infeksi pada peternakan telah dikendalikan di sebagian besar negara, pemberantasan penyakit ini sulit karena oleh adanya infeksi persisten pada hewan liar, seperti luak Eropa di Inggris, rusa berekor putih di beberapa bagian Amerika Serikat dan posum ekor sikat (Trichosurus vulpecula) di Selandia Baru. Pada saat ini TBC sapi tetap menjadi masalah serius bagi kesehatan hewan dan manusia di banyak negara berkembang.

Apa itu Bovine tuberculosis atau tuberkulosis sapi?

Nama 'tuberkulosis' berasal dari kata nodul (pertumbuhan jaringan yang tidak normal dapat berupa tonjolan atau benjolan) yang disebut 'tuberkel', yang terbentuk di kelenjar getah bening dan jaringan lain dari hewan dan manusia yang terkena. Bovine tuberculosis adalah penyakit bakteri kronis pada hewan yang disebabkan oleh anggota Mycobacterium tuberculosis complex terutama oleh M. bovis , tetapi juga oleh M. caprae dan pada tingkat lebih rendah M. tuberculosis. Penyakit ini merupakan penyakit zoonosis utama, dan ternak sapi adalah sumber utama infeksi bagi manusia. Penyakit ini juga dapat menyerang hewan peliharaan lainnya seperti domba, kambing, kuda, babi, anjing dan kucing, dan spesies satwa liar seperti babi hutan, rusa, dan kijang, menyebabkan gejala umum penyakit, pneumonia, penurunan berat badan, dan akhirnya kematian.

Sapi dianggap sebagai reservoir utama (komponen utama dari lingungan penularan dimana agen meneruskan dan mempertahankan hidupnya dan sekaligus sebagai sumber penularan) M. bovis, dan merupakan sumber utama infeksi kepada manusia. Namun demikian, penyakit ini telah dilaporkan pada banyak hewan peliharaan dan non-domestikasi lainnya. Penyakit ini juga dapat menyerang hewan peliharaan lainnya seperti domba, kambing, kuda, babi, anjing dan kucing, dan spesies satwa liar seperti babi hutan, rusa, dan kijang.

Mycobacterium bovis telah diisolasi dari berbagai spesies satwa liar, termasuk kerbau Afrika, kerbau Asia domestik, banteng, domba, kambing, kuda, unta, babi, babi hutan, rusa, antelop, anjing, kucing, rubah, cerpelai, musang, tikus , primata, llama, kijang, tapir, gajah, sitatunga, badak, posum, tupai tanah, berang-berang, anjing laut, kelinci, rakun, ajag, dan beberapa bangsa kucing pemangsa termasuk singa, harimau, macan tutul, dan lynx (kucing liar di Amerika Utara dan Eurasia).

Tuberkulosis sapi merupakan notifiable disease atau penyakit yang wajib dilaporkan ke otoritas pemerintah negara anggota organisasi kesehatan hewan dunia (OIE). Penyakit ini masuk ke daftar yang ditetapkan oleh Otoritas Veteriner, dan begitu terdeteksi atau terduga, harus mendapatkan perhatian dari Otoritas tersebut menurut peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Distribusi geografis

Tuberkulosis sapi ditemukan di seluruh dunia, tetapi beberapa negara tidak pernah mendeteksi TB, dan banyak negara maju telah berhasil mengurangi kasus atau menghilangkan TB sapi dari populasi ternak mereka dan membatasi penyakit pada satu zona atau lebih. Namun, sumber infeksi yang besar tetap terdapat pada satwa liar. Prevalensi tertinggi tuberkulosis sapi adalah di Afrika dan sebagian Asia, tetapi penyakit ini juga ditemukan di negara-negara di Eropa dan Amerika.

Penularan dan penyebaran

Penyakit ini dapat ditularkan langsung melalui kontak dengan hewan peliharaan dan hewan liar yang terinfeksi atau secara tidak langsung melalui konsumsi bahan yang terkontaminasi agen penyebab penyakit.

Rute infeksi yang biasa dalam peternakan adalah dengan menghirup aerosol yang terinfeksi, yang dikeluarkan dari paru-paru (dengan batuk). Anak sapi dapat terinfeksi dengan menelan kolostrum atau susu dari sapi induk yang terinfeksi.

Manusia dapat terinfeksi dengan minum susu mentah dari sapi yang terinfeksi, atau melalui kontak dengan jaringan tubuh yang terinfeksi di rumah potong hewan atau tempat pemotongan hewan.

Perjalanan penyakit lambat dan membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk mencapai tahap yang fatal. Akibatnya, hewan yang terinfeksi dapat melepaskan bakteri di dalam peternakan sebelum munculnya tanda-tanda klinis. Oleh karena itu, pergerakan hewan domestik yang terinfeksi yang tidak terdeteksi merupakan penyebab utama penyebaran penyakit.

Tanda-tanda klinis

Tuberkulosis sapi mungkin subakut atau kronis, dengan tingkat perkembangan yang bervariasi. Sejumlah kecil hewan dapat menjadi sangat terdampak dalam beberapa bulan setelah infeksi, sementara yang lain mungkin memerlukan beberapa tahun untuk mengembangkan tanda-tanda klinis. Bakteri penyebab TBC sapi ini juga dapat ‘tertidur’ di inang tanpa menyebabkan penyakit untuk jangka waktu yang lama.

Tanda-tanda klinis yang biasa meliputi: kelemahan, kehilangan nafsu makan dan berat badan, demam berfluktuasi, dyspnoea dan batuk retas intermiten, tanda-tanda pneumonia tingkat rendah, diare, pembesaran, kelenjar getah bening menonjol.

Diagnosis

Tanda-tanda klinis TBC sapi tidak secara khusus khas dan, oleh karena itu, tidak memungkinkan dokter hewan untuk membuat diagnosis definitif berdasarkan tanda-tanda klinis saja.

Tes kulit tuberkulin adalah metode standar diagnosis TBC pada hewan hidup peliharaan. Metode dilakukan dengan cara menyuntikkan tuberkulin sapi (ekstrak protein murni yang berasal dari M. bovis) secara intradermal dan kemudian mengukur ketebalan kulit di tempat suntikan 72 jam kemudian untuk mendeteksi pembengkakan di tempat suntikan (tanda hipersensitivitas tertunda terkait dengan infeksi).

Tes in vitro sampel darah yang mendeteksi bakteri, antibodi, atau imunitas yang diperantarai sel juga saat ini sudah tersedia, dan sedang dikembangkan. Yang paling banyak digunakan tes sampel darah adalah uji pelepasan interferon gamma yang mendeteksi respons imun yang diperantarai sel terhadap infeksi M. bovis. Tes ini didasarkan pada prinsip bahwa sel darah sapi yang sebelumnya telah terpapar M. bovis melalui infeksi diketahui menghasilkan peningkatan kadar interferon gamma setelah inkubasi in vitro dengan antigen M. bovis.

Sementara itu, peneguhan diagnosis dikonfirmasi dengan kultur bakteri dan identifikasi di laboratorium, sebuah proses yang bisa memakan waktu delapan minggu atau lebih.

Risiko kesehatan masyarakat

Bentuk TBC yang paling umum pada manusia disebabkan oleh M. tuberculosis. Namun, tidak mungkin untuk membedakan secara klinis infeksi yang disebabkan oleh M. tuberculosis dari yang disebabkan oleh M. bovis, yang diperkirakan mencapai 10% dari kasus tuberkulosis manusia di beberapa negara. Diagnosis mungkin lebih rumit dengan kecenderungan infeksi M. bovis berada di jaringan selain paru-paru (yaitu infeksi ekstrapulmonal) dan fakta bahwa M. bovis secara alami resisten terhadap salah satu antimikroba yang biasa digunakan untuk mengobati tuberkulosis manusia yaitu pirazinamid.

Peta jalan pengendalian dan penanggulangan tuberkulosis zoonosis

Tuberkulosis manusia adalah penyebab utama penyakit dan kematian di seluruh dunia. Hal ini terutama disebabkan oleh M. tuberculosis dan biasanya ditularkan melalui jalur pernapasan melalui kontak dekat dan inhalasi aerosol yang terinfeksi. TBC zoonosis adalah bentuk tuberkulosis manusia yang kurang umum yang disebabkan oleh anggota Mycobacterium tuberculosis (M. bovis) kompleks. Bentuk zoonosis terutama ditularkan secara tidak langsung, melalui konsumsi susu yang terkontaminasi, produk susu, atau daging yang mengandung bahan yang terinfeksi. Di daerah di mana kebersihan makanan diterapkan secara konsisten, risiko terhadap masyarakat umum telah berkurang, namun infeksi tuberkulosis zoonosis tetap menjadi bahaya pekerjaan bagi peternak, pekerja rumah potong hewan, dan tukang daging.

Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) dan Persatuan Internasional Melawan Tuberkulosis dan Penyakit Paru (The Union) bersama-sama meluncurkan peta jalan pertama untuk mengatasi TBC zoonosis pada Oktober 2017. Peta jalan tersebut didasarkan pada pendekatan One Health yang mengakui saling bergandengan-tangan sektor kesehatan manusia dan hewan untuk mengatasi dampak kesehatan dan ekonomi daripada penyakit ini.

Peta jalan ini menyerukan tindakan secara bersama-sama dari lembaga pemerintah, donor/penyandang dana, akademisi, organisasi non-pemerintah dan pemangku kepentingan swasta di seluruh tingkat politik, keuangan dan teknis. Telah didefinisikan sepuluh prioritas untuk mengatasi TBC zoonosis pada manusia dan TBC sapi pada hewan, ini termasuk dalam tiga tema utama: (1) Meningkatkan penemuan bukti ilmiah; (2) Mengurangi penularan pada antarmuka hewan-manusia; (3) Memperkuat pendekatan kerjasama lintas sektor dan kolaboratif.

Pencegahan dan pengendalian

Program pengendalian dan pemberantasan nasional berdasarkan pengujian dan penyembelihan hewan yang terinfeksi telah berhasil dilaksanakan di banyak negara, sebagai pendekatan yang disukai untuk mengelola tuberkulosis sapi. Namun, pendekatan ini tetap tidak praktis di beberapa negara yang terinfeksi berat karena dapat mengharuskan pemotongan ternak dalam jumlah besar, dan ini mungkin tidak layak, karena keterbatasan sumber daya manusia atau keuangan dalam program kesehatan hewan, atau karena alasan sosial-budaya. Oleh karena itu, negara-negara menggunakan berbagai bentuk pengujian dan pemisahan pada tahap awal, dan kemudian beralih ke metode pengujian dan pemotongan pada tahap akhir.

Beberapa program pemberantasan penyakit telah sangat berhasil dalam mengurangi atau menghilangkan penyakit pada ternak, dengan menggunakan pendekatan berbagai segi yang meliputi: (1) Pemeriksaan daging post mortem (mencari tuberkel di paru-paru, kelenjar getah bening, usus, hati, limpa, pleura, dan peritoneum), untuk mendeteksi hewan dan ternak yang terinfeksi; (2) Pengawasan intensif termasuk kunjungan ke peternakan; (3) Pengujian individu ternak secara sistematis; (4) Pemusnahan hewan yang terinfeksi dan hewan kontak; (5) Peraturan Pemerintah Daerah yang memadai; (6) Pengawasan lalu-lintas ternak yang efektif; (7) Identifikasi individu hewan; (8) Ketertelusuran yang efektif.

Mendeteksi hewan yang terinfeksi mencegah daging yang tidak aman memasuki rantai makanan dan memungkinkan Layanan Kesehatan Hewan untuk melacak kembali ke peternakan asal hewan yang terinfeksi yang kemudian dapat diuji dan dihilangkan jika diperlukan.

Pasteurisasi atau pemanasan susu dari hewan yang berpotensi terinfeksi dengan suhu panas yang cukup untuk membunuh bakteri telah terbukti efektif untuk mencegah penyebaran penyakit ke manusia.

Pengobatan antimikroba pada hewan yang terinfeksi jarang dicoba karena: (1) dosis dan durasi pengobatan yang diperlukan, (2) biaya pengobatan yang tinggi, (3) gangguan pada tujuan utama menghilangkan penyakit, dan (4) potensi risiko berkembangnya resistensi antibiotik.

Vaksinasi dipraktekkan dalam pengobatan manusia, tetapi sejauh ini tidak digunakan sebagai tindakan pencegahan pada hewan, karena kurangnya ketersediaan vaksin yang aman dan efektif, dan potensi gangguan pada surveilans dan tes diagnostik bovine tuberculosis, karena hasil reaksi positif palsu pada hewan yang divaksinasi. Disarankan kepada para peneliti secara aktif mengkaji tentang: (1) potensi vaksin baru tuberkulosis sapi; (2) vaksin yang lebih baik dengan cara pemberian vaksin untuk hewan domestik dan satwa liar; dan (3) tes diagnostik baru untuk membedakan hewan yang divaksinasi dari hewan yang terinfeksi.

Ditulis olehPangannews.id

pangannews

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal