PanganNews.id Jakarta - Oleh : Hendra Hidayat, Duta Petani Milenial/Duta Petani Andalan Kementan RI
Pertanian di Indonesia adalah salah satu roda penggerak utama perekonomian nasional. Selain menghasilkan bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sector pertanian juga diharapkan selalu melakukan penelitian dan pengembangan terutama dalam hal produktivitas baik dihulu maupun dihilirnya. Saat ini sektor pertanian Indonesia dari sisi produksi merupakan sektor kedua paling berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, setelah industri pengolahan. Posisi sektor pertanian masih di atas sektor lainnya, seperti perdagangan maupun konstruksi. Pada triwulan III 2021 sektor pertanian terus memberi kontribusi positif untuk perekonomian Indonesia. Kondisi ini tak lepas dari road map pertanian yang sudah disusun pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia tahun 2045.
Pertanian Indonesia saat ini bisa dikatakan terus mengalami perkembangan. Namun jika dilihat lebih dalam, tetap beberapa permasalahan yang terus menghambat, salah satunya adalah penurunan tenaga kerja pertanian. Pada tahun 2016 lalu indonesia kehilangan 0,51% tenaga pertanian dan tahun ini kehilangan 2,21%. Selain itu, permasalahan yang menghambat perkembangan pertanian tahun ini adalah kurangnya benih berbagai komoditas tanaman pangan, baik secara kualitas maupun kuantitas. Sampai Oktober 2017 produksi benih padi inhibrida mengalami penurunan hampir 40 ribu ton dan padi hibrida hanya naik sekitar 15 ton.
Usaha untuk memajukan pertanian Indonesia terus dilakukan untuk menghadapi permasalahan yang menghambat. Selain fokus dalam pembangunan jaringan irigasi untuk meningkatkan produksi padi dengan meningkatkan intensitas pertanaman dan luas areal tanam. Sasaran pembangunan irigasi ini mencapai 100 ribu hektar. Selain itu, pemerintah juga selalu melakukan inovasi untuk mendukung petani sebagai pelaku utama dalam mendongkrak produktivitas pangan nasional, seperti menciptakan varietas unggulan, metode budidaya, maupun penanganan hama.
Pertanian Indonesia diibaratkan seperti merpati putih yang tak ingkar janji karena merupakan salah satu sektor utama penyumbang pendapatan negara saat ini. Dan untuk mengoptimalkan sektor ini, Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya menghadirkan banyak petani milenial yang terkoneksi dengan berbagai stakeholders yang ada.
Dalam beberapa kesempatan, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, Kementan akan terus memfasilitasi generasi muda agar bisa terjun menjadi petani serta wirausahawan pertanian. "Kita fasilitasi mereka, kita tingkatkan pengetahuan dan kemampuan mereka melalui pelatihan. Kita manfaatkan teknologi, Alsintan, hingga jejaring pemasaran. Kita tanamkan kepada generasi muda bahwa pertanian itu keren, hebat, dan satu-satunya sektor yang menjanjikan, terlebih di tengah pandemi ini," jelas Mentan SYL.
Saat ini adalah kondisi yang menjadi serius dan mendesak dalam upaya mencetak petani muda yang handal. Karena petani milenial adalah SDM pilihan. Kehadirannya harus dapat meresonansi generasi muda lainnya untuk bisa mengembangkan pertanian dalam artian luas. Sektor pertanian adalah sektor yang menjanjikan, menjadi petani adalah hal yang keren. Karena masa depan pertanian Indonesia ada di tangan petani milenial. Untuk itu, perlu terus diupayakan peningkatan kapasitas, kemampuan, dan pengetahuan para petani milenial dan petani andalan.
Para petani milenial dan andalan dari seluruh Indonesia yang sebelumnya didapuk menjadi Duta Petani Milenial/Duta Petani Andalan (DPM/DPA) Kementan RI saat ini sudah memiliki Himpunan Petani Milenial Andalan Indonesia sebagai wadah dalam meresonansi program penumbuhkembangan petani muda di 34 provinsi. Saat ini memang gebrakan Duta Petani Milenial (DPM) Kementerian Pertanian (Kementan) dalam meresonansi regenerasi petani diberbagai daerah, semakin terlihat nyata.
Banyak program yang sudah dilakukan untuk mendorong sinergi Kementan dengan Kementerian dan Lembaga lain termasuk organisasi profesi guna meningkatkan penumbuhan wirausahawan muda pertanian. Sebut saja beberapa pelatihan dan seminar yang dapat meningkatkan wawasan peserta terkait digital ekonomi, pemanfaatan program inclusive closed-loop dan pengembangan desa wisata pertanian. Belum lagi program pendampingan usaha bagi wirausahawan pertanian, pelatihan vokasi untuk kewirausahaan pengembangan usaha, pelatihan dan pendampingan literasi keuangan dan akses permodalan melalui KUR hingga akselerasi pembiayaan dan investasi pun dilakukan oleh Kementan.
Dinamika SDM Pertanian Kedepan
Saat ini tantangan terbesar dalam regenerasi petani bukan hanya sekedar dalam hal people (soft skill & Character Building), tetapi juga bicara terkait penguasaan manajemen (proccess) dan diseminasi teknologi (smart farming & IOT). Para milenial harus mulai mengetahui positioning diri mereka. Dimana mereka mengambil bagian dalam keberlanjutan pertanian di Indonesia. Apakah hulu, onfarm, hilir atau supporting sector lainnya ?
Minimal ada 3 peluang bagi pemuda menekuni pertanian. Pertama dari sisi tingkat pendidikan generasi muda lebih memiliki peluang tinggi daripada generasi tua. Kedua, harga produk pertanian akan terus meningkat setiap tahunnya, karena kebutuhan terus meningkat. Ketiga, kebutuhan produk pertanian meningkat sampai tahun 2050, karena kebutuhannya diprediksi meningkat sampai 70%.
Ada arus besar selepas perkuliahan selesai maka generasi milenial lebih memilih untuk bekerja diperkantoran, menggunakan seragam rapih dan mendapatkan penghasilan yang stabil setiap bulannya. Bahkan tidak jarang arus besar ini berasal dari alumni perguruan tinggi yang berbasis pada pertanian.
Dibutuhkan revolusi mindset dan mental yang disadarkan dari awal perkuliahan bahwa terjun kedunia pertanian juga memiliki masa depan yang tidak kalah dengan profesi lainnya. Dibutuhkan penderasan informasi baik melalui media online maupun social media bagi para milenial. Dan penting untuk membentuk forum-forum yg bisa terus mengakselerasi Gerakan regenerasi petanni milenial ini.
Menemukan Food Valley di Indonesia
Menjelang 2050, bumi akan dihuni oleh sekitar 10 miliar manusia, meningkat dari jumlah 7,85 miliar pada saat ini. Jika tidak ada peningkatan besar dalam hasil pertanian, yang diiringi dengan penurunan besar dalam penggunaan air dan bahan bakar fosil, satu miliar orang atau lebih mungkin akan menghadapi risiko kelaparan. Kelaparan bisa jadi merupakan masalah tergenting abad ke-21, dan para visioner yang bekerja di Food Valley diharapkan bisa menemukan solusi inovatif. Food Valley, sebuah kompleks besar perusahaan pengembang teknologi pertanian dan pertanian eksperimental adalah hal yang wajib dibangun di Indonesia layaknya silicon valley yang terus bergerak berinovasi dibidang IT untuk memberikan kemanfaatan di era revolusi industry 4.0.
Arah dan gerak dari pembangunan pertanian Indonesia diawali dari Food Valley ini berbasis teknologi yang tetap memperhatikan ekologi dan kemanusiaan. Upaya strategis dan sistematis untuk membawa Indonesia Kembali menemukan jati diri dan competitive advantage-nya dimulai dari sini juga. Sehingga dibutuhkan keberpihakan politik dan dukungan penuh dari semua stakeholder untuk mewujudkan ini semua.
Dan hal yang tak kalah penting adalah adanya diseminasi teknologi pertanian yang merata keseluruh wilayah Indonesia dengan menjadikan petani milineal sebagai aktor utama karena petani milenial ini adalah iron stock yang paling adaptif dengan perkembangan teknologi dan agent of change wajah pertanian Indonesia kedepannya.


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.