Peluang Dan Tantangan Petani Milenial: Revitalisasi Kelompok Tani Wujudkan Korporasi

Pangannews.id

Senin, 09 Mei 2022 11:10 WIB

news
Foto : Ahmad Suryanto | Widiaiswara di Balai Pelatihan Pertanian Lampung | Pemerhati Kebijakan Pertanian.

PanganNews.id Jakarta - Oleh Ahmad Suryana

(Widyaiswara Balai Pelatihan Pertanian Lampung, Kementerian Pertanian)

Berdasarkan data dari Buku Statistik Penyuluhan Pertanian 2020, ada 646.293 kelompok tani yang terdaftar di Sistem Penyuluhan Pertanian, tersebar di seluruh pelosok Tanah Air, dari Aceh hingga Papua. Secara klasifikasi, dari jumlah itu sebagian besar masih tergolong kategori berkemampuan Kelompk Tani Pemula (359.541), Kelompok Tani Lanjut (152.426) dan belum diketahui (104.594). Selanjutnya, sebagian kecil dari jumlah kelompok itu masuk kategori Kelompok Tani Madya (26.948) dan sangat sedikit yang masuk kategori Kelompok Tani Utama (2.580) (BPPSDMP Kementerian Pertanian, 2020). 

Sebagai pengetahuan, menurut Pedoman Penilaian Kelas Kemampuan Kelompok Tani yang dikeluarkan BPPSDMP Kementerian Pertanian (2018), klasifikasi kemampuan kelompok tani secara berjenjang dikategorikan sebagai Kelompok Tani Pemula, Lanjut, Madya, dan Utama. Pengkelasan ini didasarkan kriteria Kemampuan membuat Perencanaan, kemampuan mengorganisasikan kelompok, kemampuan melaksanakan kegiatan, dan kemampuan melakukan pengendalian dan pelaporan. 

Dalam sorotan penulis, yang perlu dilihat sebagai patokan dari berbagai kriteria di atas adalah pada hal menjalankan usaha, dimana pada kelompok tani yang masih pemula usaha taninya dilaksanakan untuk kebutuhan sendiri, seperti misalnya RDKK pupuk untuk memenuhi kebutuhan anggota. Sementara kelompok tani yang berkemampuan lanjut, usaha kelompok tani sudah dilakukan secara berkelompok berorientasi pasar tapi belum terintegrasi dan belum memilki jejaring usaha. Kemudian, kelompok tani yang bekemampuan madya sudah menjalankan usaha berorientasi pasar, terintegrasi, dan sudah memiliki jejaring usaha tapi belum bermitra secara pasti yang diikat dengan Perjanjian Kerjasama (MoU). Adapun kelompok tani berkemampuan Utama sudah memiliki usaha tani berorientasi pasar, menjalin kemitraan dengan kepastian perjanjian kerjasama (MoU), menerapkan sistem pertanian terpadu, dan berwawasan lingkungan.  

dapatlah dikatakan bahwa kelompok tani berkemampuan utama sudah menunjukkan pengelolaan secara manajemen modern layaknya korporasi (perusahaan maju). Dan ini jumlahnya sangat sedikit. Inilah makanya, ketika Presiden Jokowi sejak tahin 2017 mencanangkan korporasi petani dan nelayan, secara standar sebenarnya Kementerian Pertanian jauh-jauh hari sudah membuat kategori kelompok tani berkemampuan korporasi sebagaimana diatur dalam berbagai perturan tentang pembinaan kelembagaan petani.

Dalam pandangan penulis, agar kelompok-kelompok tani yang kebanyakan masih berkelas pemula itu bisa bertransformasi menjadi kelompok-kelompok tani maju berkelas utama, diperlukan dorongan kuat dari pemangku kepentingan (pemerintah) berupa langkah revitalisasi sistematis untuk ini. Salah satunya, menurut penulis, adalah dengan melakukan perbaikan sistem kepemimpinan (leaderhip) dan manajemen kelompok tani agar mampu berstandar leadership dan manajemen korporasi sehingga lebih adaptif dengan tuntutan kemajuan. 

Jika diamati dengan seksama, di berbagai kelompok tani yang usahanya maju, kepemimpinan dan manajemen usaha taninya memang sangat baik. Dari sisi hulu, pengadaan saran produksi sudah berjalan secara efesien, demikian juga dari sisi pemasaran dengan segala pernak perniknya sudah tertata secara menguntungkan. Dan jika ditelisik secara mendalam, bisa dipastikan kelompok tani yang maju itu memilki visi, misi, dan sistem kepemimpinan yang kuat. Dalam kelompok tani seperti ini, tujuan kesejahteraan bersama anggota secara bekelanjutan dan orientasi jauh ke depan menjadi satu ciri dan “modal utama” kelompok untuk bisa melalui berbagai ujian dan tantangan kemajuan. 

Di masa lalu, kita pernah mengenal Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) yang dilaksanakan Kementerian Pertanian dengan menggelontorkan dana permodalan di Gabungan Kelompok Tani. Atau jauh sebelumnya, di masa Orde Baru, kita juga pernah mengenal Program Koperasi Unit Desa (KUD). Ada sebuah pertanyaan penting, bagi kita di masa kini, mengap program yang telah menyedot anggaran yang begitu besar dan digadang-gadang akan menyelesiakan bayak persoalan di Pedesaan, kini hampir tak terlihat bekasnya?

Dalam pandangan penulis, faktor terbesar yang membuat program besar tersebut tidak berkelanjutan adalah karena faktor sumber daya manusia (SDM) wirausahawan, terlebih dengan konsep kewirausaaan sosial, yang kurang menjadi perhatian. Manajeman dan leadership di tingkat kelompok kurang mendapatkan porsi pembinaan secara serius. Akibatnya program berjalan dengan hanya sekedar memenuhi kreteria teknis dan administrasi birokrasi. Dan kini program-program tersebut hampir tidak lagi terdegar.

Dari program PUAP dan KUD kita bisa belajar banyak. Dalam konteksi kepemimpinan dan visi kesejahteraan bersama kelompok tani ini, penulis berkeyakinan bahwa hadirnya model kewirausahaan sosial layak diiplementasikan untuk bisa menjadi oase harapan bagi kemajuan kelompok tani yang akan datang.

Sebagaimana kita pahami, kewirausahaan sosial digagas sebagai wadah bagi orang-orang yang tergerak untuk ikut memecahkan masalah sosial yang ada di tengah masyarakat melalui kegiatan wirausaha. Dalam konteks ini para pemuda milenial potensial bisa direkrut dan dimotivasi, diarahkan, serta dibekali kemampuan untuk melakukan kegiatan usaha agribisnis di tengah-tengah petani atau kelompok tani, dimana usaha ini orientasinya bukan hanya demi kesejahteraan sendiri tapi agar bisa menghadirkan manfaat dan solusi atas masalah yang selama ini dihadapi kelompok tani, seperti dalam hal mutu produk, penanganan panen pasca panen, perluasan pasar, dll.

Untuk mampu mengadirkan manfaat dan solusi bagi kemajuan kelompok tani maka kemampuan leadership dan manajemen menjadi suatu yang mutlak untuk dimiliki para petani milenial. Inilah peluang sekaligus tantangan bagi pemuda milenal yang potensial untuk menjadi petani muda pengusaha.

Pemerintah, melalui Badan Penyuluhaan Pegembangan SDM Pertanian semestnya melakukan rekrutmen, mendidik, melatih, dan melakukan pembekalan lain yang diperlukan agar petani muda milenial memennuhi kompetensi ini.

Para milenial yang telah memiliki kompetensi dan kemampuan perlu diterjunan di medan praktik kelompok-kelompok tani yang selama ini sudah ada. Yang jelas, di kelompok tani itu berbagai sumber daya telah tersedia untuk menjadi modal berwirausaha. Sumber daya manusia, lahan, komoditas, potensi pasar dan lain sebagainya adalah modal yang siap diorganisir. Sebagai pintu masuk, petani muda milenial bisa mulai dari banyak sisi, bisa dari sisi hulu dengan menyediakan sarana produksi baru yang bisa mengungkit peningkatan produksi dan perbaikan mutu produk, atau dari sisi hilir dengan mengorganisir pemasaran, atau dari berbagai sisi lain yang mungkin. Dengan langkah tesebut, secara bertahap para petani milenail ini bisa terus membersamai para petani dan menjadi penggerak ditengah-tengah mereka. Pada akhirnya perbaikan leadership dan sistem manajemen sebagai visi kewirausahaan sosial bagi petani milenial akan bisa terwujud, bahkan mereka ini bisa sekaligus sebagai aktor pelaku pimpinan yang secara resmi berperan dalam mengurus keberlangsungan kelompok tersebut.

Demikianlah peluang dan tantangan bagi petani muda milenial untuk tampil di tengah-tengah kelompok tani. Jika langkah-langkah perbaikan leadership dan manajemen untuk menjawab peluang dan tantangan kemajuan kelompok tani sebagaimana diuraikan di atas bisa dilakukan oleh para petani muda milenial bervisi cemerlang, maka harapan terwujudnya kelompok-kelompok tani maju berkelas utama dengan standar kemampuan manajemen korporasi bukan lagi menjadi angan-angan yang jauh. Lebih jauh, bahkan kita berkeyakinan, jika kapasitas SDM petani milenial berkarakter wirausawan sosial ini banyak yang melebihi espektasi, akan banyak perusaan start up berbasis kelompk tani yang bermunculan dan berkompetisi mamajukan petani.


Kolom Komentar

You must login to comment...