Saat Nya, Padi Hibrida Memberi Bukti

Pangannews.id

Sabtu, 14 Mei 2022 04:52 WIB

news
Foto : Entang Sastraatmadja, Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat.

PanganNews.id Jakarta - Oleh: Entang Sastraatmadja

Kelihatan dengan ada nya kemauan politik dari Pemerintah untuk mengembangkan padi hibrida di tiga Provinsi yang selama ini dikenal sebagai sentra produksi padi di negara kita (Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Sumatera Selatan), tentu saja hal ini merupakan angin segar bagi upaya percepatan peningkatan ketersediaan beras secara nasional.

Untuk merespon kerisauan Badan Pangan Dunia (FAO) akan ada nya kemungkinan terjadi krisis pangan paska Pandemi Covid 19, sikap Pemerintah untuk mewujudkan ketersediaan beras dari produksi dalam negeri, benar-benar merupakan langkah terhormat dan bertanggungjawab. Sikap politik untuk mampu "membebaskan" negara kita dari kedoyanan impor beras, sangat penting untuk diberi acungan jempol.

Bagaimana pun, prestasi mendunia soal kisah sukses Indonesia meraih swa sembada beras tahun 1984, bukanlah keberhasilan yang gampang diwujudkan. Perjalanan panjang disertai dengan kesungguhan untuk meraih nya, menjadi pengalaman yang mengasyikan bagi mereka yang mengalami nya. Arti nya, tidak ada yang akan dirugikan, bila hal ini dijadikan bahan pembelajaran di saat bangsa kita ingin memperkokoh ketersediaan beras.

Pengembangan padi hibrida sendiri merupakan bagian dari upaya meningkatkan ketersediaan beras dari hasil produksi petani di dalam negeri. Terbukti dengan keunggulan produktivitas tinggi, pengembangan padi hibrida, memang perlu dijadikan salah satu pilihan kebijakan Pemerintah. Tinggak sekarang, sampai sejauh mana kita mengeleminir kelemahan-kelemahan nya.

Beberapa kelemahan yang selama ini mengemuka antara lain adalah pertama, harga benih yang mahal; kedua, petani harus membeli benih baru setiap tanam, karena benih hasil panen sebelumnya tidak dapat dipakai untuk pertanaman berikutnya; 

dan ketiga, tidak setiap galur atau varietas yang dapat dijadikan sebagai tetua padi hibrida.

Kelemahan yang demikian, sesungguh nya dapat ditangani dan dicarikan solusi cerdas nya. Bukan sesuatu hal yang sangat sulit untuk dipecahkan. Badan Litbang Kementerian Pertanian sendiri telah mampu melahirkan benih padi hibrida yang cukup mendukung kebijakan ini. Pertanyaan nya adalah adakah niat dan keseriusan kita untuk menyelesaikan nya ?

Soal harga benih yang mahal, tentu menjadi tantangan tersendiri. Disini, peran para peneliti dan pemulia tanaman padi hibrida di Badan Litbang Kementerian Pertanian, ditantang untuk dapat menghasilkan benih padi hibrida yang murah dan seirama dengan langkah Pemerintah dalam mewujudkan pelaksanaan revolusi perbenihan padi nasional.

Seperti yang diketahui, sasaran besar "revolusi benih padi " adalah inovasi benih padi varietas super dengan lima nilai unggul. Pertama, produktivitasnya tinggi, minimal 10 ton gabah kering giling (GKG) per hektar, sehingga bisa menghemat penggunaan lahan. 

Kedua, umurnya pendek yang memungkinkan frekuensi tanam tinggi , 2.5-3.0 kali/tahun, sehingga menghemat lahan juga. 

Ketiga, super-responsif pada pupuk kimia sehingga hemat penggunaan pupuk, sekaligus ramah ekologis.

Keempat, tahan cekaman abiotik seperti kekeringan, banjir, dan salinisasi akibat perubahan iklim global.  Kualitas tahan kekeringan dibutuhan untuk antisipasi keterbatasan air irigasi. 

Kelima, tahan cekaman biotik yaitu hama dan penyakit sehingga hemat penggunaan pestisida. Kualitas ini perlu sebagai antisipasi terhadap anomali serangan hama dan penyakit akibat ketak-pastian iklim global.

Benih padi hibrida yang sekarang ada, keunggulan utama nya adalah mampu menghasilkan produksi dan produktivitas yang cukup tinggi. Dari berbagai demplot yang dilakukan di berbagai daerah, produksi padi hibrida mampu menghasilkan gabah sekitar 8 ton per hektar. Dibanding padi inbrida, dalam skala demplot, padi hibrida terbukti dapat menghasilkan produksi yang lebih tinggi. Hal ini memberi peluang untuk mempercepat terwujudkan ketersediaan beras.

Persoalan ke depan, bagaimana produksi padi hibrida jika sudah diterapkan dalam skala yang sifat nya massal dan tidak hanya dalam skala demplot ? Apakah hasil nya bakalan sama atau justru berkurang, mengingat penanaman padi hibrida membutuhkan perlakuan khusus dari mereka yang membudidayakan nya ?

Dalam kaitan ini, kata kunci nya berada di para Penyuluh Pertanian sebagai pendamping petani di lapangan. Kita harus siapkan agar para Penyuluh Pertanian betul-betul mengenalu seluk beluk soal padi hibrida. Mulai benih, hama penyakit tanaman yang mengganggu, pengairan dan pemupukan yang tepat. Semua ini, akan menentukan sampai sejauh mana keberhasilan pengembangan padi hubrida secara massal.

Pendampingan petani oleh para Penyuluh Pertanian (Penyuluh PNS, Swasta dan Swadaya) merupakan poin penting dalam pengembangan padi hibrida, selain perlu nya dukungan nyata seluruh komponen bangsa. Oleh karena nya, pasti kita sepakat bila urusan pendampingan petani menjadi bahasan khusus dalam mencari pola dan format terbaik pengembangan padi hibrida.

Pengembangan padi hibrida yang bakal digarap Pemerintah di 3 Provinsi sentra produksi padi sebagaimana digambarkan diatas, jelas akan memberi petunjuk yang pasti terkait dengan masa depan padi hibrida di negeri ini. Jika hasil produksi nya bagus dan sesuai dengan apa yang diharapkan, maka penting untuk dijadikan pilihan kebijakan Pemerintah je depan, namun andai hasil yang ducapai tidak sesuai harapan, maka tugas kita bersama untuk terus berikhtiar guna menyempurnakan nya. (PENULIS, KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT).


Kolom Komentar

You must login to comment...