Pemanfaatan Agens Pengendalian Hayati (APH) Dalam Gerakan Pengendalian Preemtif Amankan Pangan Di Bantul

Pangannews.id

Jumat, 20 Januari 2023 08:20 WIB

news
Foto : Gerakan Pengendalian secara Preemtif dengan menggunakan Agens Pengendali Hayati (APH) oleh Kelompok Tani Margo Rukun di Dusun Kadisoro.

PanganNews.id Bantul 19/1,- Dalam rangka menerapkan pertanian yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan agens hayati dan nabati sebagai bahan pengendali OPT, Kementerian Pertanian bersama pemerintah daerah dan stakeholder pertanian terus melakukan upaya upaya salah satunya melalui dana desa untuk perbanyakan agens pengendalia hayati dan nabati kepada kelompok-kelompok tani di salah satu desa di Kabupaten Bantul yang mendukung perbanyakan APH untuk pengendalian OPT tanaman pangan adalah Desa Gilang Harjo Kecamatan Pandak Kabupaten Bantul.    

Untuk itu dilaksanakan Gerakan Pengendalian secara Preemtif dengan menggunakan Agens Pengendali Hayati (APH) Beauveria bassiana, Paenibacillus polymyxa dan PGPR oleh Kelompok Tani Margo Rukun di Dusun Kadisoro. Kegiatan Gerakan Pengendalian dihadiri oleh Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul, Kepala UPTD BPTP DIY, Kepala LPHP Bantul dan seluruh staf, BPP Kabupaten Bantul, Perwakilan dari Koramil dan Polsek, Kepala Desa dan jajarannya, Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) dan juga penyuluh.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sugeng Purwanto menyatakan bahwa Pembangunan Pertanian ramah lingkungan menjadi salah satu prioritas dalam upaya untuk meningkatkan produksi pangan, menjaga ketersediaan dan keamanan pangan Provinsi DIY umumnya dan Kabupaten Bantul khususnya . Masyarakat sudah mulai memahami arti penting pangan sehat yang harus dihasilkan melalui produksi pangan yang sehat, pengelolaan pertanian sehat yang ramah lingkungan sebagai bentuk ibadah kita dalam menjaga keseimbangan semua mahluk ciptaan Allah. “Saat ini, Sebagian besar petani di Kabupaten Bantul khususnya, sudah banyak yang mengenal APH sebagai bahan pengendali dan telah menerapkan dalam praktek budidaya terutama pada tanaman pangan”, tutur Sugeng Purwanto.

Sejalan dengan pernyataan tersebut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul Joko Waluyo menyampaikan bahwa salah satu program prioritas Kabupaten Bantul adalah Pertanian Ramah Lingkungan disamping program prioritas lainnya. Hal ini diwujudkan melalui dukungan dana untuk pengembangan agens hayati mulai dari desa, atau dana desa. 

Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Mohammad Takdir Mulyadi dalam sambutannya menyampaikan ungkapan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Bantul yang telah memberikan dukungan untuk menerapkan pertanian yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan agens hayati dan nabati sebagai bahan pengendali OPT. “Pangan harus kita amankan, kita harus selalu menyiapkan pangan, karena itu kita harus menjaga produksi dan produktivitas melalui pengelolaan pertanian yang ramah lingkungan. OPT yang menjadi salah satu kendala dalam peningkatan produksi harus kita kelola secara ramah lingkungan dengan menggunakan bahan pengedali hayati maupun nabati. Saat ini LPHP Bantul telah terakreditasi ISO 17025, artinya LPHP Bantul telah mendapat pengakuan secara nasional dan Internasional untuk memproduksi dan mengembangkan agens-agens hayati dan bahan lainnya untuk pengendalian hama dan penyakit secara alami dan ramah lingkungan”, tegas Takdir Mulyadi.   

Selanjutnya Takdir Mulyadi menambahkan bahwa penggunaan bahan-bahan kimia seperti pupuk kimia dan pestisida kimia secara berlebihan dan terus menerus dapat menyebabkan degradasi kesuburan tanah dan cemaran lingkungan. Degradasi kesuburan tanah menyebabkan kandungan bahan organik tanah rendah, mikroorganisme bermanfaat di dalam tanah rendah, pH rendah dan beberapa unsur hara menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Hasil pengujian kesuburan tanah rutin sampel tanah yang diambil dari beberapa wilayah yang masif menggunakan bahan-bahan kimia sintetik menunjukkan memiliki kandungan bahan organik rendah, pH masam, kadar P di dalam tanah tinggi namun tidak dapat diserap oleh tanaman. Oleh karena itu kita harus terus secara bersama-sama menjaga kesehatan tanah dan keseimbangan ekosistem pertanian dengan menggunakan bahan-bahan pengendali OPT ramah lingkungan dan menggunakan bahan-bahan organik seperti pupuk organic, PGPR, untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman. Dengan menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan hasil perbanyakan sendiri, akan menurunkan biaya produksi dan tentu saja dalam jangka panjang akan semakin meningkatkan kesuburan tanah dan akan berdampak pada peningkatan Produksi.  

“Kita akan jadikan Bantul sebagai Wilayah Percontohan penerapan pengelolaan pertanian ramah lingkungan dengan memanfaatakan APH dan bahan-bahan ramah lingkungan lainnya. Jadi kita harus membentuk mindset petani untuk berbudidaya tanaman padi sehat *tanpa APH gak marem*. Pemanfaatan APH merupakan kesiapan manajemen logistik APH di masing-masing daerah. Agar dimasifkan dan dipersiapkan dengan baik oleh petani”, tutur Takdir. 

Di tempat terpisah Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi menyatakan sesuai dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo bahwa pembangunan pertanian ke depan harus dilaksanakan secara cerdas dengan memanfaatkan semua sumberdaya disekitar kita. “ Alam kita ini sangat kaya dengan berbagai keragaman dan populasi baik hayati maupun nabati, kita akan terus mendukung dan mendorong pengembangan bahan-bahan pengendali hayati maupun nabati untuk pengelolaan pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan” tegas Suwandi.


Kolom Komentar

You must login to comment...