Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Bapanas Ajak Insinyur Indonesia Kembangkan Inovasi Pertanian 

Bagikan
Ilustrasi inovasi pertanian (Istimewa)
Ilustrasi inovasi pertanian (Istimewa)

PanganNews.id, Jatim  - Badan Pangan Nasional/ National Food Agency (NFA) mengajak Persatuan Insinyur Indonesia (PII) untuk berkontribusi dalam mengembangkan riset serta inovasi di sektor on farm dan off farm untuk  menjaga stabilitas ketersediaan, pasokan, dan harga pangan.  

Hal tersebut disampaikan Kepala NFA Arief Prasetyo Adi dalam Seminar Nasional Dalam Rangkaian Musyawarah Wilayah PII Jatim 2023 dengan bertemakan 'Dukungan Insinyur Dalam Menciptakan Kedaulatan, Ketahanan, dan Kemandirian Pangan Nasional' yang digelar secara daring pada Kamis 4 Mei 2023.

Menurut Arief, kontribusi para insinyur dalam menghasilkan inovasi merupakan salah satu kunci  dalam pembangunan nasional, termasuk dalam urusan pangan. 

"Inovasi tersebut bisa diwujudkan dalam berbagai sektor mulai dari tahapan produksi (bibit, pupuk, irigasi, insektisida), pengolahan (pasca panen, processing), hingga perdagangannya (rantai pasok dan rantai dingin)," kata dia, dikutip dari Badanpangan.go.id. 

Kata dia, dengan cukupnya ketersediaan dan pasokan yang memadai, harga pangan akan cenderung stabil dan mudah dikendalikan sepanjang waktu. 

“Karena adanya kondisi ketersediaan, pasokan, dan permintaan, maka harga pangan pun terus bergerak naik turun. Dinamika ini yang harus kita jaga agar pergerakannya tetap terjaga stabil,” papar Arief.

Oleh karenanya, Arief meminta para insinyur agar berkontribusi aktif dan berkolaborasi dengan Badan Pangan Nasional untuk mengoptimalkan pemanfaatan teknologi yang tepat. 

"Antara lain yaitu Inovasi di sektor hulu untuk meningkatkan produktivitas dan produksi pangan melalui upaya-upaya intensifikasi di bidang pertanian, peternakan, serta perikanan," papar dia.

Kemudian,  merencanakan penyebaran pola panen guna mendukung kepastian produksi, salah satunya melalui pemanfaatan Green House sehingga aktivitas budidaya tidak harus bergantung lagi pada musim. Melalui hal ini maka produksi bisa tersedia sepanjang waktu, sehingga harga pun bisa terjaga stabil. 

Terakhir, memperpanjang masa simpan atau Save Life produk pangan melalui pemanfaatan teknologi seperti coating maupun storage yang diikuti dengan mendekatkan sentra produksi dengan wilayah konsumen. 

"Seandainya bisa berkolaborasi dengan Badan Pangan Nasional, beberapa teknologi ini yang saya minta dari PII, khususnya untuk komoditas bawang dan cabai," jelas dia. 

Diketahui,  Badan Pangan Nasional hingga saat ini telah memiliki 19 unit sarana dan prasarana rantai dingin (Cold Storage, Reefer Container, Air Blast Freezer) yang tersebar di berbagai daerah. Upaya semacam ini akan terus dikembangkan khususnya di wilayah timur Indonesia.

Sementara itu dalam upaya pengentasan daerah rentan rawan pangan sebesar perlu dilakukan penyelenggaraan Cadangan Pangan Pemerintah. Pemerintah melalui BUMN dan ekosistem pangan lainnya akan terus terus memperkuat CPP melalui skema Dynamic Stock. CPP ini tidak terbatas hanya pada beras, namun juga komoditas lain yaitu jagung, kedelai, daging ruminansia, daging unggas, telur ayam ras, minyak goreng, gula, bawang, cabai, hingga ikan kembung. 

Disamping itu untuk mencapai target skor Pola Pangan Harapan (PPH) dilakukan upaya Penganekaragaman Pangan baik di sisi ketersediaan maupun konsumsi. Pada tahun 2022 skor PPH mencapai 92,8 lebih tinggi dari target. Hal ini disebabkan terlalu banyak konsumsi nasi dan kurangnya konsumsi sayur dan buah serta biji-bijian. Upaya ini diikuti dengan kampanye konsumsi pangan B2SA (Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman) dengan jargon “Makan Enak Makan Sehat Makan B2SA.”

Salah satunya inovasi sumber karbohidrat non beras dan non terigu seperti tepung Mocaf sebagai alternatif. (egi)

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal