PanganNews.id, Lumajang - Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, Fauzi Fery Sandy tidak malu menjadi seorang petani yang diidentikkan dengan dengan lumpur, kotor, dan kumuh.
Mahasiswa yang juga petani kentang milenial di Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang ini mengakuibanyak anak muda yang memiliki stigma kurang baik terhadap petani.
"Jadi memang sektor pertanian ini dipandang rendah, terutama oleh generasi milenial," tutur Fauzi, Jumat 1 Mei 2023, dikutip dari timesindonesia.com.
Menurut Fauzi, petani juga punya masa depan jika digarap dengan serius. Bahkan, kata dia, petani milenial tidak harus ke ladang sekarang. Banyak langkah yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan usaha pertanian, termasuk pemasaran.
"Saya kalau libur kuliah ke ladang, ikut menanam dan sering ngompres kentang,” ucap pria berumur 20 tahun tersebut.
Sering disapa Nemo, pria itu mengaku menjadi petani karena orang tuanya dan lingkungan desa Ranupani mendorongnya untuk menjadi petani.
"Orang tua saya petani jadi saya jadi termotivasi danmemang saya berada di lingkungan pertanian, saya juga kuliah di Agroteknologi,” jelasnya.
Fauzi menjelaskan jika tanah yang dikelola merupakan tanah orang tuanya dengan luas 2,5 hektare. Lokasinya berada bersebelahan dengan jalur pendakian Gunung Semeru.
Saat ini Ia memperkerjakan 6 orang untuk menggarap ladang kentangnya. "Ada sekitar 6 orang yang membantu saya mengolah lahan, jadi jika saya sedang kuliah mereka yang bertanggung jawab di sini,” ujarnya.
Mahasiswa Agroteknologi ini juga menjelaskan bahwa menjadi petani pasti ada susah payahnya tetapi jika ditekuni hasilnya cukup menjanjikan.
Saat ini komoditas yang dia tanam sebagian besar adalah kentang jenis Granola Kembang. Selain kentang, ia juga menanam daun bawang.
"Kentang dalam setahun 3 kali panen dan sudah ada bakulnya sendiri, kalau daun bawang tidak pasti karena bukan sebagai komoditas utama yang saya tanam," tambahnya.
Selama tiga tahun ia terjun, Fauzi Fery Sandy mengatakan hasil yang didapat cukup menjanjikan. Bahkan dia menyebut menjadi petani tidak merugikan, justru setiap empat bulan sekali dia merasakan manisnya masa panen. (nicko)


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.