PanganNews.id, Klaten- Mursyid Tri Widodo (53 tahun), warga Desa Kwaon, Kecamatan Jatinom Klaten, memiliki hobi menanam anggur. Hobi yang dilakukan selama pandemi COVID-19, kini menghasilkan puluhan juta rupiah dalam sebulan.
“Yang menguntungkan adalah bibitnya. Sebulan saya bisa jual minimal 100 batang dengan harga 100.000 rupiah,” kata Mursyid, di kebun anggur Mbah Haris di Dusun Macanan, Desa Jemawan, Kecamatan Jatinom dikutip dari detik.com, Selasa 16 Mei 2023.
Mursyid menceritakan, dirinya menekuni hobi berkebun anggur sekitar tahun 2021 di saat pandemi COVID-19. Awalnya dia menanam di lahan 2.000 meter jenis anggur Probolinggo.
"Satu patok 2.000 meter kita tanam anggur Probolinggo, anggur yang sudah lokal tapi itu untuk minuman wine jadi asam. Lalu lihat-lihat di YouTube ada anggur impor, cari bibitnya dan belajar nyambung (grafting) jenis lokal dan import, ternyata berhasil," kata Mursyid.
Untuk menguatkan hobi, masih kata Mursyid, dirinya juga belajar pelatihan online dari komunitas dan pengajar IPB Bogor untuk mengisi kesibukan saat pandemi. Tanam awal 150 batang tapi banyak yang mati.
"Saya tanam tapi banyak yang mati, terus kita tanam jenis lokal dulu baru kita sambung. Meskipun sulit tapi akhirnya bisa, caranya yang lokal kita tanam dulu dan setelah tumbuh 3-4 meter kita sambung batang anggur impor yang saya beli online," jelasnya.
Dari hobi berkebun itu, terang Mursyid, kini dirinya memiliki koleksi 15 jenis anggur yang dibibitkan dan dibuahkan sendiri. Mulai dari jenis anggur ninel sampai moon drop.
"Ada 15, anggur ninel, academic, carnival, moon drop, baikonur new, transfigurasi, dan saya lupa namanya. Jadi saya itu belajarnya coba-coba, learning by doing," bebernya.
Selain membuat bibit, Mursyid mengaku saat ini menanam untuk buah. Lahannya sekitar 1.000 meter persegi bersama tanaman jeruk yang sudah panen raya bulan November-Desember 2022 lalu.
"Bulan November-Desember kemarin kita panen perdana untuk buah. Kiloannya saya tidak timbang tapi uang hasil panen sekitar Rp 11 juta- Rp 12 juta, itu saja banyak kita bagikan ke tetangga sekitar," papar Mursyid.
Hasil panennya, sambung Mursyid, belum dilempar ke pasaran umum. Karena habis diserbu warga yang datang dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur karena melihat channel YouTube Mursyid.
"Habis di sini, petik sendiri karena tahu dari medsos. Banyak dari Semarang, Ponorogo, Surabaya dan lainnya tapi dari sekitar Klaten juga datang bawa sepur mini ramai-ramai, harganya saya patok Rp 8.000," ujar Mursyid yang bekerja di bidang otomotif itu.
Diakui Mursyid, hasil panen anggur memang jauh jika dibandingkan tanam padi maupun palawija. Namun tenaga dan biayanya pun bisa lebih mahal.
"Modal bisa lebih mahal kalau menggunakan green house saja bisa seratus juta biayanya. Belum harus teliti, tekun dan mencermati hama serta musim," ucap Mursyid yang juga pebisnis properti ini. (nicko)


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.