Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Buntut Kasus Antraks, Pemerintah Isolasi Lalu Lintas Hewan Ternak dari Gunung Kidul

Bagikan
Ilustrasi Hewan Sapi Yang Terjangkit Virus Antraks (tempo.co)
Ilustrasi Hewan Sapi Yang Terjangkit Virus Antraks (tempo.co)

PanganNews.id, Gunung Kidul - Kasus antraks di Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah menyebabkan pemerintah mengisolasi seluruh lalu lintas ternak di Dusun Jati, Candirejo, Semanu, Gunungkidul.

Pada awalnya, ditemukan 12 ekor hewan ternak yang terinfeksi antraks, termasuk enam ekor sapi dan enam ekor kambing.

Beberapa hewan ternak tersebut dikonsumsi oleh puluhan warga, yang mengakibatkan sedikitnya 87 orang terpapar.

Sugeng Purwanto, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, menyatakan bahwa saat ini belum ada tambahan data mengenai ternak lain yang terpapar atau tertular.

"Hal ini disebabkan oleh mayoritas peternak di Gunungkidul memiliki ternak dalam skala kecil, sehingga isolasi dapat dilakukan dengan lebih mudah dan cepat untuk mencegah penyebaran," kata Sugeng sapaan akrabnya, Jumat 7 Juli 2023.

Selain itu menurutnya, pemerintah saat ini fokus pada memberikan edukasi kepada warga agar menghindari mengonsumsi daging ternak yang sudah mati atau tidak layak.

Hal ini dikarenakan kasus antraks telah terjadi beberapa kali sejak tahun 2019.

Sementara Pembajun Setyaningastutie, Kepala Dinas Kesehatan DIY, menjelaskan bahwa warga Gunungkidul yang terpapar antraks disebabkan oleh mengonsumsi daging yang terinfeksi antraks.

"Dinas Kesehatan melakukan survei serologi pada 125 sampel setelah terjadi kasus kematian warga yang terinfeksi antraks, dan hasilnya menunjukkan bahwa 87 orang memiliki hasil serologi positif atau dicurigai terinfeksi," jelasnya.

Pembajun juga mengungkapkan bahwa warga Dusun Jati yang meninggal dunia karena antraks dirawat di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta. Warga tersebut, yang berusia 73 tahun, meninggal dunia pada tanggal 4 Juni 2023 setelah pada tanggal 22 Mei ia ikut menyembelih sapi tetangganya yang sudah mati dan mengonsumsinya.

Warga tersebut mengalami gejala seperti demam, pusing, dan batuk antara tanggal 22 hingga 29 Mei setelah mengonsumsi daging sapi yang mati tersebut," tuturnya.

Kulitnya juga mengalami bintik-bintik dan pembengkakan pada kelenjar tubuhnya sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit pada tanggal 1 Juni. Pembengkakan terjadi di perut dan lipatan kelenjarnya sebelum ia meninggal dunia," pungkas dia.

Penulis: Ajat Nicko
Editor: R Muttaqien

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal