Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Tradisi Tumpeng Jangka, Bentuk Rasa Syukur Warga Magelang Terhadap Hasil Tani Melimpah

Bagikan
Warga Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak Magelang sedang melakukan tradisi Tumpeng Jangka (Antara)
Warga Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak Magelang sedang melakukan tradisi Tumpeng Jangka (Antara)

PanganNews.id, Magelang - Petani di Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang selalu menggelar tradisi Tumpeng Jangka secara turun-temurun di Rabu Pahing, bulan Sapar penanggalan Jawa. 

Tradisi tersebut dilakukan sebagai rasa syukur para petani terhadap hasil panen yang mereka dapatkan. Sehingga dengan syukuran tersebut para petani bisa lebih giat dan bersyukur pada hasil panen yang diberikan alam.

Sekretaris Desa Girirejo, Santosa menyampaikan, dengan menjalankan tradisi ini, para petani berharap hasil panen bisa melimpah sekaligus mendapatkan harga jual yang menguntungkan.

“Lewat tradisi tumpeng jangka ini, harapannya nanti panen sayur lebih baik, harganya juga lebih baik sehingga masyarakat mampu melakukan ‘merti dusun’ (bersih-bersih desa) dengan lebih meriah," jelas Santosa baru-baru ini. 

Saat tradisi ini digelar, warga secara bergotong royong membersihkan makam yang ada di dusun. Setelah itu, warga berduyun-duyun membawa tumpeng dan ayam ingkung dari rumah masing-masing untuk berkumpul dan berdoa bersama di sebuah lokasi.

Pada saat itulah, pemuka agama setempat membacakan doa. Setelah itu warga makan bersama.

Selain itu,  di depan rumah, warga juga memasang ancak, tempat tumpeng berukuran kecil yang disangga tiga bilah bambu. Selain itu, jika dana yang dikumpulkan cukup banyak, warga juga menggelar kesenian tradisional seperti jaran kepang papat atau wayang kulit, Millens.

Kali terakhir tradisi ini dilakukan adalah pada Rabu (28/9/2022) lalu.

Saat itu, hari yang dipilih adalah Rabu Pahing Bulan Mulud penanggalan Jawa karena kebetulan pada bulan Sapar nggak ada Rabu Pahing. Kala itu, tradisi tumpeng jangka digelar meriah karena pada dua tahun sebelumnya, tradisi ini digelar dengan lebih sederhana akibat adanya pandemi Covid-19.

Menurut cerita Santosa, warga memanfaatkan tradisi ini untuk mendoakan kebahagiaan para leluhur dusun sekaligus lestarinya alam tempat mereka tinggal. Warga yakin jika dengan terus melakukan tradisi turun-temurun ini, rezeki akan selalu mendatangi warga desa.

“Bahkan saat harga sayuran yang dipanen mletre (turun dan nggak memuaskan) sekalipun, tradisi ini akan tetap digelar,” terang Santosa.

Penulis : Egi Abdul Mugni 
Editor : R Muttaqien

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal