PanganNews.id, Jakarta - Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menyampaikan bahwa harga pangan dunia masih berada di atas rata-rata.
Dengan kenyataan tersebut, Tauhid mengkhawatirkan akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebab, kata dia, harga pangan dipengaruhi oleh efek tekanan global.
"Sulit untuk turun ke harga semula," kata dia.
Terlebih, konflik Rusia-Ukraina dan Palestina-Israel yang belum dapat diprediksi kapan berakhir sehingga mengacaukan rantai pasok. Oleh karena itu, lanjutnya, pemerintahan baru nanti akan dihadapkan pada isu konsumsi rumah tangga yang tertahan.
Padahal, konsumsi rumah tangga berpengaruh sekitar 58 persen sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Hal ini menjadi cerminan persoalan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Sementara dari perdagangan, Indonesia menghadapi tren surplus yang susut. Sebagai gambaran, neraca perdagangan kumulatif periode Januari hingga Februari 2023 mencapai 9,28 miliar dollar AS, sementara pada 2024 hanya 2,87 miliar dollar AS. Adapun pada Februari 2024, impor Indonesia tumbuh 15,8 persen, sedangkan ekspor minus 9,4 persen secara tahunan.
"Tantangan riil demikian ditambah stabilitas global bakal mengancam akselerasi target pertumbuhan ekonomi," imbuh dia.
Penulis: Egi Abdul Mugni
Editor: R Muttaqien


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.