PanganNews.id, Wonogiri - Memasuki musim kemarau, sejumlah petani di Wonogiri, Jawa Tengah, memilih beralih menanam tanaman hortikultura seperti buah-buahan.
Meski lebih berisiko dibandingkan padi, langkah ini dinilai lebih aman dan menguntungkan dalam kondisi kekurangan air.
Wahyudi, petani dari Pule, Selogiri, Wonogiri, menyatakan bahwa pada masa tanam II ini, menanam padi hampir mustahil.
"Masa tanam II sudah masuk musim kemarau, karena masa tanam I mundur akibat kemarau panjang tahun lalu," ujarnya.
Jika tetap memaksakan menanam padi, Wahyudi memastikan panen akan gagal.
"Padi butuh banyak air dan lahan berair. Saya memilih menanam semangka di lahan seluas 4.000 m² agar tetap produktif di musim kemarau," tambahnya.
Menurut Wahyudi, semangka tidak memerlukan banyak air seperti padi, sehingga cocok untuk lahan tadah hujan di Selogiri. Meskipun sudah beberapa kali mencoba menanam hortikultura pada masa tanam II, Wahyudi mengakui tantangannya cukup besar.
"Tanaman hortikultura lebih ribet, butuh kerja ekstra, dan rentan terserang hama. Meski lebih menguntungkan, saya lebih nyaman menanam padi jika ada air," katanya.
Wahyudi mengungkapkan bahwa biaya produksi menanam semangka mencapai Rp10 juta, sedangkan padi hanya Rp5 juta untuk lahan yang sama. Namun, pendapatan dari semangka bisa fluktuatif.
"Kadang dapat Rp15 juta, pernah juga Rp10 juta, bahkan sampai Rp30 juta. Tapi ada juga yang gagal. Semangka bisa panen dalam dua bulan, sedangkan padi tiga bulan," jelasnya.
Petani lain, Sugimin, yang menanam melon di Selogiri, menyatakan bahwa tanah di Selogiri sangat cocok untuk hortikultura, terutama saat awal musim kemarau.
"Tanaman melon yang saya tanam sudah mulai berbunga, artinya risiko kegagalan panen rendah," katanya.
Sugimin mengungkapkan biaya produksi semangka di lahan seluas 1 bau (sekitar 7.000 m²) mencapai Rp20 juta, sementara melon Rp30 juta.
"Pendapatannya bisa mencapai Rp50 juta. Biasanya langsung dijual ke tengkulak dari Sragen, Klaten, atau Purwodadi," tambahnya.
Kepala Dinas Pertanian Wonogiri, Baroto Eko Pujanto, menyatakan bahwa hortikultura adalah alternatif yang baik untuk bercocok tanam di musim kemarau.
"Namun, tanaman hortikultura tidak semudah padi. Mereka butuh perawatan ekstra dan rentan gagal," katanya.
Baroto juga mengakui bahwa perubahan pola tanam dari padi ke hortikultura bukanlah hal yang mudah bagi petani yang sudah terbiasa dengan padi.
"Meski menguntungkan dan kebutuhan airnya lebih sedikit, mengubah pola tanam petani yang sudah nyaman dengan padi tetap menantang," ujarnya.
Penulis: Ajat Nicko
Editor: R Muttaqien


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.