Pangannews.id, Jakarta - Fenomena sinkhole atau lubang runtuhan yang muncul tiba-tiba, baru-baru ini mengguncang dua negara Asia, yakni Malaysia dan Korea Selatan (Korsel). Sinkhole yang menghebohkan ini telah menelan korban jiwa serta menyebabkan kerusakan signifikan, sementara para ahli berupaya memahami fenomena yang misterius ini.
Pada 23 Agustus 2024, Kuala Lumpur, Malaysia dikejutkan oleh munculnya sinkhole besar di kawasan kota. Sinkhole kedua muncul pada 28 Agustus 2024, hanya sekitar 50 meter dari lokasi pertama.
Sinkhole ini memakan korban seorang turis asal India, yang hingga 30 Agustus 2024 belum ditemukan. Pencarian yang dilakukan oleh tim SAR Malaysia akhirnya dihentikan pada 31 Agustus 2024 setelah usaha yang intensif.
Sementara, di Korea Selatan, fenomena serupa terjadi pada 29 Agustus 2024 di Seoul. Sebuah mobil yang ditumpangi oleh dua orang berusia lanjut "ditelan" oleh sinkhole hingga terguling ke samping.
Kedua penumpang mengalami luka-luka, namun dikabarkan tidak ada korban jiwa. The Korea Herald melaporkan bahwa retakan juga muncul di dekat lokasi sinkhole yang pertama, menambah kekhawatiran akan potensi dampak lebih lanjut.
Penjelasan Ahli: Sinkhole dan Gempa Tidak Terhubung
Eko Soebowo, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa fenomena sinkhole ini tidak memiliki hubungan langsung dengan gempa bumi. Menurutnya, sinkhole bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kondisi geologis dan sistem drainase yang kurang optimal.
"Sinkhole adalah cekungan di dalam tanah yang terbentuk karena larutnya batuan karst oleh air yang mengalir ke bawah permukaan. Di Kuala Lumpur dan Seoul, kemungkinan besar ada batu gamping di bawah permukaan yang terpengaruh oleh sistem drainase yang kurang memadai," kata Eko, seperti dilansir dari CNBC Indonesia.
Eko juga menjelaskan bahwa jenis-jenis sinkhole termasuk solution sinkhole, collapse sinkhole, dan subsidence sinkhole. Masing-masing memiliki karakteristik dan penyebab yang berbeda, dan memerlukan analisis langsung di lokasi kejadian untuk menentukan jenis yang tepat.
Potensi dan Pencegahan Sinkhole di Indonesia
Di Indonesia, fenomena sinkhole dianggap sangat jarang terjadi, terutama di daerah pedesaan seperti pegunungan selatan Wonosari dan Imogiri. Eko menambahkan bahwa meskipun Indonesia belum memiliki peta sebaran potensi sinkhole, upaya pencegahan bisa dilakukan dengan melakukan grouting atau pengisian celah di lokasi-lokasi yang teridentifikasi sebagai area risiko tinggi.
"Untuk Indonesia, terutama di area dengan batu gamping seperti di Wonosari, perlu dilakukan pemetaan potensi sinkhole dan penerapan teknik grouting untuk memperkuat daya dukung tanah," ujarnya.
Dengan kejadian-kejadian sinkhole yang semakin sering terjadi di berbagai belahan dunia, penting bagi setiap negara untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap risiko ini. Penelitian dan pemetaan yang lebih mendalam akan membantu mengurangi dampak dari fenomena ini di masa depan.


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.