Pangannews.id - Di tengah musim kemarau 2024, Kabupaten Bojonegoro mengalami lonjakan signifikan dalam luas tanam tembakau. Menurut catatan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, luas tanam tembakau mencapai 15.959 hektar, hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura DKPP Bojonegoro, Imam Nurhamid Arifin, mengungkapkan bahwa ada peningkatan sebesar 4.770 hektar dibandingkan musim kemarau 2023 yang hanya mencatat 11.189 hektar.
“Peningkatan ini sangat signifikan, dengan luas tanam tembakau yang kini mencakup 251 desa dan melibatkan sekitar 48.897 petani,” ujar Imam, dikutip dari Tribunbojonegoro.
Imam menjelaskan bahwa peningkatan luas tanam tembakau disebabkan oleh peralihan dari tanaman jagung ke tembakau. Fenomena ini terjadi di beberapa kecamatan seperti Kapas, Trucuk, Margomulyo, Gayam, dan Kalitidu.
Banyak petani yang beralih karena musim kemarau dianggap lebih cocok untuk tembakau daripada jagung, serta tingginya harga tembakau yang menjadi daya tarik ekonomi.
“Petani merasa lebih menguntungkan menanam tembakau dibandingkan jagung di musim kemarau ini. Namun, meskipun luas tanam meningkat, ada tantangan lain yang harus dihadapi,” tambah Imam.
Harga Tembakau Mengalami Penurunan
Tantangan terbesar saat ini adalah penurunan harga jual tembakau. Muhammad Rudi, seorang petani tembakau dari Desa Bakulan, Kecamatan Temayang, melaporkan bahwa harga tembakau tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu.
“Harga tembakau kering berkualitas bagus saat ini berkisar antara Rp 38.000 hingga Rp 45.000 per kilogram, sementara tahun lalu harganya mencapai Rp 47.000 hingga Rp 50.000 per kilogram,” ungkap Rudi.
Rudi juga mengkhawatirkan bahwa harga tembakau bisa terus turun menjelang akhir musim panen, terutama dengan mulai turunnya hujan di daerah tersebut.
“Hujan yang mulai turun dapat mempengaruhi kualitas tembakau yang sedang dikeringkan dan menyebabkan penurunan harga lebih lanjut,” jelasnya.
Meskipun terdapat peningkatan luas tanam tembakau yang signifikan, tantangan harga tetap menjadi masalah utama bagi petani. Perubahan strategi dari menanam jagung ke tembakau dan adaptasi terhadap kondisi cuaca menunjukkan dinamika kompleks dalam industri tembakau Bojonegoro.


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.