PanganNews.id - Rencana menteri pertanian Amran untuk fokus pada 6 komoditas unggulan yaitu Sawit, Kelapa, Lada, Kakao, Kopi, dan Cengkih ditanggapi sangat positif oleh fungsionaris Perhimpunan Ilmu Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Muhammad Sirod.
Sirod berujar bahwa peta jalan Agroindustri tersebut pastilah sudah dipunyai oleh menteri pertanian RI, tinggal bagaimana para pihak terkait bisa bersinergi mewujudkan cita-cita besar tersebut.
"Kajian-kajian soal potensi bla..bla..bla.. itu sudah hadir di seminar-seminar, FGD-FGD di lingkungan birokrasi kita. Dengan penetapan pada 6 komoditi tersebut artinya menteri Amran sudah melakukan analisa kebijakan strategis, tinggal beliau bersama-sama para pihak terkait benar-benar menyiapkan ekosistem terbaik sehingga kita bisa menjadi champion untuk komoditi-komoditi unggulan tersebut"
Sirod mencontohkan untuk agroindustri kopi misalnya, dirinya menyarankan untuk tidak perlu bertarung dengan Vietnam yang masih diserap produk kopi robustanya untuk industri kopi sachet nasional untuk market middle - low end. Biarkan pelaku industri kopi nasional fokus pada kopi-kopi Arabika yang bernilai tinggi untuk pasar global Amerika, Eropa dan Timur Tengah.
Ketua bidang Usaha dan Bisnis Pertanian PISPI ini juga berharap industri penopang kopi juga tumbuh di tanah air dengan tetap memperhatikan competitiveness. Misalnya industri mesin-mesin roasting kopi sampai mesin dan alat penyaji di kedai-kedai kopi di tanah air. Saat ini market masih dikuasai brand-brand China sampai Eropa terutama Italia.
"Kita harus belajar dari pengusaha-pengusaha fast moving consumer goods tanah air, begitu dia juara di market nasional, mereka punya fondasi kuat untuk masuk ke pasar global" ia meneruskan argumennya.
"6 komoditas pertanian tersebut termasuk tanaman keras dan komoditi perkebunan yang memang dari dulu kita kuat di sana, saatnya kita benahi sektor hulunya agar bisa menguasai hilir. Kelapa itu terlihat banyak potensinya, tapi ketika dikomparasi dengan Thailand saja kita jauh penguasaan hulunya. Misal, berapa titik dan luasan lahan kebun kelapa kita yang dikelola dengan benar? Bila kita mau ambil kelapa untuk diambil sabut dan batok kelapanya, jenis hybrida apa yang dikembangkan? Jika fokus kepada dessicated coconut dan santannya jenis apa yang dikembangkan? Demikian seterusnya" Dewan Pakar Gerakan Solidaritas Nasional ini membuat analogi sederhana.
"Saya kebetulan sedang di Thailand, dulu kita selalu kalah bersaing dengan komoditas pertanian mereka: jambu bangkok, ayam bangkok, pepaya bangkok misalnya, kini kita perlahan sudah bisa bersaing dengan mereka, kita punya jambu kristal hasil riset IPB-Taiwan, ayam nunukan-camani-pelung dan beragam ayam lokal lain kini mudah ditemui peternak ayam kampung, pepaya Callina atau yg dikenal Pepaya California temuan riset alm. Prof. Sriyani IPB kini memenuhi toko-toko buah kita" nada optimis menutup wawancara pagi ini. (*/Adv)


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.