Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Stunting Tidak Mematikan Potensi Anak, BKKBN: Otak Masih Bisa Berkembang Hingga Usia 20 Tahun

Bagikan
Stunting Tidak Mematikan Potensi Anak, BKKBN: Otak Masih Bisa Berkembang Hingga Usia 20 Tahun
Stunting Tidak Mematikan Potensi Anak, BKKBN: Otak Masih Bisa Berkembang Hingga Usia 20 Tahun

Pangannews.id – Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Irma Ardiana mengatakan, meskipun anak didiagnosis mengalami stunting pada usia 0 hingga 2 tahun (1.000 Hari Pertama Kehidupan atau HPK), perkembangan otak mereka masih bisa ditingkatkan hingga usia 20 tahun, atau sekitar 8.000 HPK.

Irma menjelaskan bahwa meskipun stunting dapat memengaruhi perkembangan fisik dan otak anak, potensi untuk tumbuh dan berkembang tetap ada, asalkan ada intervensi yang tepat dan stimulasi yang berkelanjutan.

“Walaupun setelah diperiksa di rumah sakit anak dinyatakan stunting, dengan teori 8.000 HPK, pertanyaannya otak masih bisa diselamatkan enggak? Masih. Tingginya masih bisa dikejar enggak? Masih,” ujar Irma dalam temu media di Jakarta, Rabu (13/11/24).

Ia menyatakan bahwa meskipun perkembangan anak dengan stunting cenderung lebih lambat dibandingkan anak yang tidak mengalami stunting, mereka masih memiliki peluang untuk mencapai potensi maksimal mereka.

Salah satu cara untuk mendukung perkembangan ini adalah melalui catch up growth, yaitu upaya untuk mengejar pertumbuhan yang tertinggal melalui stimulasi yang intensif.

"Catch up growth adalah ketika anak yang mengalami stunting distimulasi dengan baik, seperti diajak bermain, atau diberi dukungan dalam hal perkembangan bahasa atau keterampilan lainnya. Kami punya referensi yang baik di Jamaica, di mana anak-anak yang diberikan stimulasi menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibandingkan yang hanya diberikan intervensi makanan,” jelasnya.

Stimulasi yang dimaksud meliputi berbagai bentuk pendekatan, mulai dari kegiatan bermain yang mendukung perkembangan kognitif dan fisik anak, hingga perhatian pada aspek komunikasi dan sosial anak.

Irma menekankan bahwa stimulasi ini penting dilakukan hingga usia 20 tahun untuk memaksimalkan potensi perkembangan anak, terutama dalam mengatasi dampak negatif dari stunting.

Pentingnya Pola Asuh 

Irma juga menekankan pentingnya pola asuh yang baik dalam upaya pencegahan dan penurunan stunting. Pola asuh yang baik tidak hanya berhubungan dengan pemenuhan gizi yang optimal sejak dalam kandungan, tetapi juga memastikan anak terlindungi dari risiko infeksi yang dapat menghambat proses pertumbuhannya.

"Polanya harus baik sejak dalam kandungan, dengan memastikan ibu hamil mendapatkan gizi yang cukup. Kemudian, setelah lahir, anak harus terlindungi dari risiko infeksi dan diberikan makanan yang tepat untuk mendukung tumbuh kembangnya," ujarnya.

Meskipun faktor genetik dan lingkungan turut memengaruhi perkembangan anak, Irma mengatakan bahwa intervensi yang tepat dapat mengurangi dampak stunting. Program-program yang menggabungkan pemberian gizi yang baik, stimulasi dini, dan pengasuhan yang tepat, menurutnya, sangat efektif dalam membantu anak-anak dengan stunting mengejar ketertinggalan dalam perkembangan.

Penelitian yang dilakukan di Jamaica, yang juga diacu oleh BKKBN, menunjukkan bahwa anak-anak yang diberikan stimulasi lebih lanjut cenderung menunjukkan hasil perkembangan yang lebih baik.

Hal ini memperkuat argumen bahwa intervensi yang melibatkan stimulasi dapat membantu mengatasi dampak negatif stunting dalam jangka panjang. Dengan pendekatan yang tepat, anak-anak dengan stunting tetap memiliki peluang untuk berkembang secara optimal hingga usia dewasa.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal