Pangannews.id - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh telah menurunkan tim untuk mengatasi gangguan harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang dilaporkan memangsa ternak warga di Gampong Alue Itam, Kecamatan Indra Makmu, Kabupaten Aceh Timur.
Kejadian tersebut dilaporkan terjadi pada Rabu (1/1/25) malam, sekitar pukul 19.00 WIB, saat warga menemukan bangkai seekor sapi yang diduga dimangsa harimau.
Kepala BKSDA Aceh, Ujang Wisnu Barata, menjelaskan bahwa tim sudah langsung bergerak untuk merespons laporan tersebut.
“Kami sudah mengerahkan tim merespons laporan harimau memangsa sapi warga di Gampong Alue Itam, Kecamatan Indra Makmu, Kabupaten Aceh Timur,” katanya di Banda Aceh, Jumat (3/1/25), seperti dikutip dari Antara.
Menurut Ujang, lokasi temuan bangkai sapi tersebut berada di perkebunan masyarakat yang merupakan kawasan hutan dengan status areal penggunaan lain (APL). Jarak lokasi kejadian sekitar 1,2 kilometer dari pemukiman penduduk.
Tim BKSDA langsung melacak jejak harimau dan berusaha menggiringnya kembali ke kawasan hutan yang menjadi habitat alami harimau sumatra.
Ternak Sering Menjadi Sasaran
Camat Indra Makmu, Irwansyah Panjaitan, menambahkan bahwa ternak sapi yang dimangsa tersebut milik warga bernama Sodri, yang sebelumnya mengikatkan sapinya di kebun. Kejadian serupa, yaitu serangan harimau terhadap ternak, sudah berulang kali terjadi di wilayah Indra Makmu.
Warga juga melaporkan bahwa harimau sering terlihat di pemukiman penduduk dan perkebunan, sehingga menyebabkan warga merasa takut dan enggan untuk pergi ke kebun.
“Selain memangsa ternak, harimau juga sering terlihat di pemukiman dan perkebunan. Kondisi ini membuat warga tidak berani beraktivitas di kebun mereka,” ungkap Irwansyah.
Menanggapi insiden ini, BKSDA Aceh mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dan tidak beraktivitas di kebun sendirian, serta tidak melepaskan ternak di daerah yang menjadi jalur lintasan harimau sumatra.
Ujang Wisnu juga mengingatkan pentingnya pembuatan kandang yang aman dan anti-serangan harimau. Pembuatan kandang yang aman sudah disosialisasikan sebelumnya kepada masyarakat untuk mengurangi potensi konflik antara manusia dan satwa liar.
“Selain itu, kami mengimbau masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan dan habitat harimau sumatra dengan tidak merusak hutan, serta tidak menangkap, melukai, atau membunuh satwa liar yang dilindungi,” tambah Ujang.
Harimau Sumatra: Spesies Terancam Punah
Harimau sumatra sendiri merupakan spesies yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera dan berstatus sebagai spesies terancam kritis menurut International Union for the Conservation of Nature (IUCN).
Satwa ini berisiko tinggi untuk punah di alam liar, sehingga sangat penting untuk menjaga kelestarian habitatnya agar keberadaannya tetap terjaga.
BKSDA Aceh juga menekankan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas ilegal seperti memasang jerat, menggunakan racun, atau memasang pagar listrik tegangan tinggi yang dapat membahayakan satwa liar, terutama harimau sumatra. Semua perbuatan ilegal tersebut dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Aktivitas ilegal yang merusak habitat dan membahayakan satwa liar juga dapat menyebabkan konflik antara manusia dan harimau sumatra. Konflik semacam ini tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi, tetapi juga dapat berakibat fatal bagi keselamatan manusia maupun keberlangsungan hidup satwa tersebut.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.