Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Inflasi Rendah di Akhir 2024, Pakar Sebut Stabilitas Harga Pangan Jadi Penopang Utama

Bagikan
"Ilustrasi" pakar sebut Stabilitas Harga Pangan Jadi Penopang ekonomi Indonesia. (Foto: iStockphoto)
"Ilustrasi" pakar sebut Stabilitas Harga Pangan Jadi Penopang ekonomi Indonesia. (Foto: iStockphoto)

Pangannews.id - Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede menyatakan bahwa inflasi rendah yang tercatat pada akhir 2024 lebih disebabkan oleh stabilitas harga pangan yang terjaga dibandingkan melemahnya daya beli masyarakat.

“Inflasi tahunan pada Desember 2024 berada di 1,57 persen, tetap di bawah target bawah Bank Indonesia (1,5 persen - 3,5 persen). Penurunan inflasi ini mencerminkan stabilitas harga, khususnya pada kelompok makanan, yang sebelumnya terdampak oleh fenomena El Nino,” kata Josua, dikutip Selasa, 7 Januari 2025.

Josua menjelaskan, upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan telah membantu menekan inflasi sepanjang tahun.

Menurutnya, meskipun inflasi rendah seringkali dikaitkan dengan lemahnya daya beli, data konsumsi rumah tangga menunjukkan pertumbuhan stabil di angka 4,9 persen pada 2024.

“Faktor pendorong inflasi di akhir tahun sebagian besar berasal dari permintaan musiman, terutama pada kelompok makanan dan restoran, sedangkan beberapa sektor seperti transportasi dan komunikasi mengalami deflasi,” ujarnya.

Stabilitas harga pangan juga tercermin dari inflasi inti yang tetap stabil pada level 2,3 persen. Ini menunjukkan tekanan permintaan terhadap komoditas pangan tidak menurun secara signifikan. 

Josua menambahkan, permintaan terhadap komoditas tertentu pada akhir tahun bahkan meningkat, mengindikasikan daya beli masyarakat di sektor konsumen masih cukup terjaga.

“Kenaikan permintaan pada akhir tahun terhadap komoditas tertentu juga menunjukkan bahwa ada daya beli yang cukup di sektor konsumen,” tambahnya.

Namun, Josua mengingatkan bahwa tren inflasi rendah ini perlu diwaspadai jika tidak disertai oleh pertumbuhan upah atau penciptaan lapangan kerja. 

“Jika tren inflasi rendah ini berlanjut tanpa diimbangi oleh pertumbuhan upah atau penciptaan lapangan kerja, maka potensi dampaknya terhadap daya beli harus diwaspadai,” ujarnya.

Josua memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan tetap mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 6 persen hingga setidaknya kuartal III 2025. 

Stabilitas kurs rupiah dan antisipasi dampak kebijakan moneter global disebut menjadi alasan utama BI menjaga kebijakan ini.

Selain itu, ia memproyeksikan inflasi pada tahun 2025 akan meningkat ke kisaran 2,2 persen-2,3 persen, naik dari realisasi akhir 2024 sebesar 1,57 persen. 

Ia menyarankan bahwa pemangkasan BI-Rate dapat dilakukan untuk mendorong permintaan domestik, terutama di sektor konsumsi dan investasi.

Dengan stabilitas harga pangan yang terus terjaga, Josua menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara kontrol harga dan pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun-tahun mendatang.

Editor: Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal