Jumat, 11 Juli 2025 19:06 WIB
Pangannews.id - Program Studi Agroteknologi, Fakultas Biologi dan Pertanian Universitas Nasional (UNAS), turut ambil bagian dalam Festival Urban Farming 2025 yang diselenggarakan oleh Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Provinsi DKI Jakarta pada 10–12 Juli 2025 di Gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta Selatan.
Kegiatan tersebut menjadi wadah kolaborasi lintas sektor dengan partisipasi sekitar 80 tenant dari kalangan pemerintah, swasta, akademisi, hingga sekolah.
Dalam festival bertema “Sinergi Global Menuju Kota Hijau Berkelanjutan”, kehadiran Agroteknologi UNAS menjadi bentuk nyata dukungan terhadap ketahanan dan kemandirian pangan keluarga di perkotaan.
Melalui booth A8 bertajuk “Urban Farming, Solusi Pertanian Berkelanjutan,” UNAS menampilkan berbagai inovasi hasil riset dosen dan mahasiswa, seperti budidaya vertikultur, microgreen, jus sayuran, cocktail Aloe vera, dan teh herbal dari daun bidara.
Booth ini tak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga sarana edukasi bagi masyarakat mengenai praktik pertanian ramah lingkungan di tengah keterbatasan lahan kota.
Mahasiswa Agroteknologi turut melayani pengunjung dan memberikan informasi seputar teknik bercocok tanam di lingkungan urban.
“Keikutsertaan kami bukan sekadar pameran. Ini adalah wujud nyata dari visi program studi untuk mencetak lulusan inovatif berjiwa agripreneur, yang mampu menjawab tantangan pertanian kota secara berkelanjutan,” ujar Ketua Program Studi Agroteknologi, Etty Hesthiati, dikutip Jum’at, 11 Juli 2025.
Festival ini juga membuka ruang kompetisi karya inovasi antar mahasiswa. Tiga mahasiswa UNAS, yakni Mirna Nur Imania, Arindya A’isy Krisna, dan Kahfi Al Hasni, berhasil lolos ke babak grand final dan dijadwalkan mempresentasikan karya mereka pada Jumat, 11 Juli 2025.
Di sisi lain, Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menegaskan pentingnya festival ini sebagai upaya membangun kota hijau dan mandiri pangan.
“Ini adalah Festival Urban Farming keempat, dan baru kali ini dianggarkan resmi melalui APBD. Artinya, kami serius karena dampaknya nyata bagi masyarakat,” katanya.
Hasudungan mengungkapkan bahwa saat ini Jakarta masih sangat bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah.
Sekitar 98 persen kebutuhan pangan Ibu Kota berasal dari luar, dan hanya 2 persen dari produksi lokal. Ia berharap pertanian urban dapat menjadi solusi untuk memperbaiki ketergantungan tersebut.
“Meningkatkan urban farming adalah salah satu cara untuk memperbaiki situasi ini. Kami berharap masyarakat dapat lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan produktif,” tambahnya.
Editor: Adi Permana
You must login to comment...
Be the first comment...