Pangannews.id - Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) memperkuat sinergi lintas sektor dalam menghadapi dinamika harga pangan, menyusul penurunan indeks perkembangan harga (IPH) tertajam se-Sulawesi.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) hingga pekan ketiga Agustus 2025, Sulbar membukukan penurunan IPH sebesar 1,23 persen. Angka ini menjadikan Sulbar sebagai satu-satunya provinsi di Sulawesi dengan penurunan harga pangan signifikan.
Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bapperida Sulbar, Muhammad Nur Dadjwi, menjelaskan bahwa penurunan tersebut dipengaruhi oleh melemahnya harga beberapa komoditas utama, terutama cabai rawit.
“Secara nasional harga cabai rawit turun hingga 18,29 persen. Di Sulbar, dampaknya terasa cukup besar. Termasuk juga turunnya harga beras dan daging ayam ras,” ujar Nur Dadjwi.
Kabupaten Pasangkayu bahkan menempati posisi kedua sebagai wilayah dengan penurunan IPH tertinggi di provinsi tersebut, yakni 2,84 persen. Hal ini dipicu oleh melimpahnya pasokan cabai rawit lokal yang menekan harga di tingkat konsumen.
Merespons kondisi ini, Pemerintah Provinsi Sulbar mengambil langkah strategis dengan memperkuat kerja sama antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat. Fokus utama adalah menjaga kestabilan pasokan dan harga bahan pokok.
“Kami mengoptimalkan penggunaan data dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) untuk memastikan distribusi pangan berjalan efektif,” kata Kepala Bapperida Sulbar, Junda Maulana.
Menurut Junda, pengendalian inflasi memerlukan koordinasi menyeluruh. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, karena dinamika harga juga dipengaruhi oleh perilaku pasar dan rantai pasok komoditas.
“Kuncinya adalah kolaborasi. Ini sejalan dengan misi Gubernur dan Wakil Gubernur Sulbar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Meski tren harga saat ini cukup menggembirakan, pemerintah daerah tetap waspada terhadap potensi kenaikan kembali di tengah ketidakpastian iklim dan distribusi.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.