Pangannews.id – Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memastikan proses distribusi beras impor dari gudang dilakukan secara berjenjang dan sesuai prosedur, salah satunya dengan menerapkan sistem first in, first out (FIFO). Mekanisme ini digunakan untuk menjamin kualitas beras tetap terjaga dan mencegah kerusakan akibat penyimpanan terlalu lama.
Pernyataan itu disampaikan menanggapi sorotan Komisi IV DPR RI, khususnya dari anggota Fraksi Golkar Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto, yang sebelumnya mempertanyakan mengapa stok lama justru belum disalurkan sementara beras impor yang lebih baru telah dilepas ke pasar.
“Semua sedang diproses. Kita ini menggunakan sistem FIFO, jadi yang masuk duluan, itu yang keluar duluan. Kalau nggak dikeluarin nanti rusak, negara yang rugi,” kata Rizal.
Ia menjelaskan bahwa sebelum dilepas ke pasaran, seluruh beras impor menjalani serangkaian tahapan pemeriksaan ketat, mulai dari pengecekan kebersihan, keberadaan kutu, hingga uji kelayakan konsumsi
“Beras dicek dulu semua, bersih atau tidak, ada kutunya atau tidak, berkuman atau tidak. Setelah itu baru dibersihkan, dikemas, dan disalurkan,” jelas Rizal.
Menurutnya, sebagian besar beras impor yang sempat disimpan di gudang kini sudah disalurkan melalui berbagai skema, seperti program bantuan pangan dan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
“Sekarang sebagian besar beras itu sudah di pasaran. Digunakan untuk bantuan pangan, untuk SPHP, jadi tinggal sedikit yang tersisa,” ungkap Rizal, tanpa menyebutkan jumlah pasti stok yang masih tersimpan.
Ia juga menegaskan bahwa Bulog hanya menjalankan kebijakan sesuai arahan pemerintah, dalam hal ini Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan kementerian terkait. Penyaluran beras, termasuk asal-usul dan volume impor, bukan ditentukan Bulog secara mandiri.
Sebelumnya, dalam rapat kerja dengan Kementerian Pertanian, Bapanas, dan Perum Bulog pada 21 Agustus lalu, Titiek Soeharto menyoroti manajemen perputaran stok di gudang Bulog. Ia meminta agar prinsip FIFO benar-benar diterapkan agar kualitas beras tetap terjaga.
“Jangan sampai beras yang lama ditahan, sementara yang baru justru dikeluarkan duluan. Ini harus jadi perhatian, agar manajemen stok Bulog lebih tertib dan tidak merugikan masyarakat,” kata Titiek dalam rapat tersebut.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.