Pangannews.id - Ribuan ton gula hasil panen petani tebu di Kabupaten Magetan menumpuk di gudang tanpa pembeli. Hingga akhir Agustus 2025, sekitar 5.000 ton gula produksi Pabrik Gula (PG) Redjosarie belum terserap pasar.
Gula tersebut tak laku meski telah beberapa kali dilelang. Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) Unit PG Redjosarie, Hendrad Subiyakto, menyebut kondisi itu sudah berlangsung selama dua setengah bulan terakhir.
“Setiap kali dilelang tidak ada pembeli. Stok terus bertambah sekitar 600 ton per minggu,” kata Hendrad, Sabtu (30/8/2025).
Gula yang tertahan di gudang itu setara dengan nilai sekitar Rp 72,5 miliar. Harga acuan penjualan (HAP) sebesar Rp 14.500 per kilogram dianggap terlalu tinggi oleh pedagang, terutama karena pasar dalam negeri saat ini dibanjiri gula rafinasi impor yang dijual jauh lebih murah.
Pada musim giling tahun-tahun sebelumnya, gula petani terserap maksimal sepekan setelah dilelang. Namun tahun ini berbeda.
“Pasar jenuh karena adanya gula rafinasi impor yang bocor ke pasaran,” ujarnya.
Kondisi ini memukul setidaknya 150 petani pemilik delivery order (DO) di Magetan. Jumlah petani terdampak diperkirakan jauh lebih banyak, karena satu DO menaungi 10 hingga 20 petani plasma. Luas lahan tebu yang digarap petani di daerah ini mencapai 3.000 hektare.
Hingga saat ini, para petani belum menerima pembayaran dari hasil panen mereka.
“Meski kualitas panen bagus, tapi hasilnya tidak manis. Selama 2,5 bulan ini kami belum menerima pembayaran,” keluh Hendrad.
Petani berharap pemerintah segera turun tangan. Hendrad mendesak agar Badan Pangan Nasional (Bapanas) merealisasikan janji penyerapan gula petani melalui BUMN pangan.
“Kalau dibiarkan, bukan hanya petani yang rugi, tapi juga perekonomian daerah terguncang,” tandasnya.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.