Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Pengamat Sebut Petani Kecil Bisa Jadi Masa Depan Ketahanan Pangan Dunia, Ini Syaratnya

Bagikan
“Ilustrasi” Smart Farming. (Foto: iStockphoto)
“Ilustrasi” Smart Farming. (Foto: iStockphoto)

Pangannews.id - Krisis pangan global yang belakangan terjadi menjadi pengingat betapa pentingnya sektor pertanian untuk kehidupan sehari-hari.

Hubertus Gay, seorang pengamat pertanian menegaskan bahwa pertanian masa depan harus lebih berkelanjutan dan inklusif untuk bisa memberi makan hampir 9 miliar penduduk dunia pada 2034.

“Populasi global diperkirakan bertambah 800 juta orang dalam 10 tahun ke depan. Tantangannya bukan hanya meningkatkan pasokan pangan, tapi juga memastikan pangan bergizi terjangkau, mudah diakses, dan merata,” ujar Hubertus Gay, dikutip dari OECD, Rabu, 24 September 2025.

Menurut dia, Prospek Pertanian OECD–FAO 2025–2034 memproyeksikan produksi pertanian dan perikanan global naik 14 persen hingga 2034, sebagian besar berkat peningkatan produktivitas.

Namun tanpa kebijakan yang tepat, jutaan orang tetap berisiko kekurangan pangan. Gay menekankan pentingnya teknologi dan inovasi yang bisa diakses petani kecil.

“Solusi yang terukur seperti akses ke benih dan pupuk berkualitas tinggi, pengetahuan, pasar, dan manajemen risiko harus menjangkau petani yang paling membutuhkannya,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perdagangan terbuka dan berbasis aturan menjadi jalur penting untuk menjaga stabilitas pasokan, harga, dan ketahanan pangan global.

Outlook OECD–FAO itu menunjukkan bahwa kekurangan gizi bisa dihapuskan dan emisi pertanian turun 7 persen jika produktivitas meningkat 15 persen dan teknologi pengurangan emisi diadopsi luas.

“Ini berarti produksi yang lebih cerdas, bukan sekadar lebih banyak,” pungkas Gay.

Editor: Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal