Pangannews.id - Untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mendorong pengembangan padi hibrida.
Tenaga Ahli Bappenas Frans BM Dabukke mengatakan, padi hibrida memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia, namun implementasinya di tingkat petani masih berjalan lambat. Padahal, inisiatif untuk mengembangkan varietas ini sudah dirintis lebih dari dua dekade lalu.
“Sekitar tahun 2003 kami mulai mempelajari pengembangan padi hibrida dari China, negara yang menjadi sumber utamanya. Tapi hingga kini adopsinya di lapangan belum terlalu pesat,” ujarnya saat menghadiri Festival Panen Raya Komunitas 10 Ton yang digelar Syngenta Indonesia di Subang, Jawa Barat, Sabtu (4/10/2025).
Frans menjelaskan, tantangan terbesar bukan hanya soal teknis produksi, tetapi juga soal keberlanjutan minat petani. Banyak petani yang masih menjadikan padi hibrida sebatas percobaan, belum sampai pada tahap penanaman dan produksi secara konsisten dengan kualitas yang bisa diterima pasar.
Untuk mengatasi hal itu, Bappenas mendorong strategi mixing atau penggabungan bertahap antara varietas hibrida dan nonhibrida. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu petani beradaptasi sambil memperbaiki kualitas rasa dan karakter beras hasil panen.
“Yang penting ada minat dulu untuk menanam. Sambil berjalan, bisa dikombinasikan dengan varietas lain. Nantinya kualitas rasa dan tekstur beras akan terus diperbaiki,” kata Frans.
Meski mampu menghasilkan produktivitas tinggi hingga 10 ton per hektare, padi hibrida masih menghadapi persoalan dalam tahap pascapanen. Saat proses penggilingan, tingkat pecah beras bisa mencapai 20–30 persen, sehingga menurunkan nilai jual dan menyulitkan petani dalam memasarkan hasil panennya.
“Produktivitasnya memang tinggi, tapi kalau hasil gilingnya banyak yang pecah, harga jualnya turun. Petani akhirnya kesulitan menjual, dan pengepul pun ragu membeli,” tuturnya.
Frans menegaskan, peningkatan kualitas beras menjadi kunci keberhasilan pengembangan padi hibrida di masa mendatang. Ia meyakini, jika kualitas gabah dan hasil giling dapat ditingkatkan, pertumbuhan padi hibrida akan meningkat pesat dan berdampak langsung pada kesejahteraan petani.
“Kalau gabah kering panen (GKP) dan kualitas berasnya sudah sama-sama baik, perkembangan padi hibrida bisa meningkat berkali lipat. Itu akan menjadi fondasi kuat bagi ketahanan pangan nasional,” pungkasnya.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.