Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Petani Mulai Enggan Tanam Kelapa, Pemprov Sumsel Siapkan Benih Unggul Banyuasin

Bagikan
Petani mulai enggan tanam kelapa, Pemprov Sumsel siapkan benih unggul Banyuasin. (Foto : iStock)
Petani mulai enggan tanam kelapa, Pemprov Sumsel siapkan benih unggul Banyuasin. (Foto : iStock)

Pangannews.id - Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mendorong petani kelapa melakukan peremajaan tanaman guna mengembalikan produktivitas dan memperkuat rantai industri hilir.

Kepala Bidang Produksi Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Havizman, mengungkapkan bahwa sebagian besar tanaman kelapa di daerahnya sudah melewati usia produktif.

Kondisi ini berdampak pada penurunan hasil, padahal kelapa merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan di Sumsel.

“Hampir di semua sentra kelapa, terutama di Banyuasin, banyak tanaman yang sudah tua dan butuh diremajakan. Kalau tidak dilakukan peremajaan, produktivitas akan terus menurun,” ujar Havizman.

Menurut data Dinas Perkebunan, hingga 2024 luas kebun kelapa di Sumatera Selatan mencapai sekitar 68 ribu hektare, dengan sebaran terbesar di Kabupaten Banyuasin.

Namun dari total itu, hanya sekitar 30 ribu hektare yang masih tergolong produktif. Sekitar 7.000 hektare di antaranya merupakan tanaman tua yang sudah tidak efisien untuk dipertahankan.

Menanggapi kondisi tersebut, pemerintah daerah bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menyiapkan program peremajaan kelapa (replanting) berbasis usulan dari kelompok tani.

Untuk tahap awal pada tahun 2025, pemerintah menargetkan replanting seluas 100 hektare di Kabupaten Banyuasin dengan varietas kelapa dalam.

Program ini akan ditunjang dengan ketersediaan benih unggul dari sumber benih resmi di Banyuasin yang telah mendapatkan penetapan dari Kementerian Pertanian.

“Potensi sumber benih di Banyuasin sebenarnya sangat besar. Dalam setahun bisa menghasilkan hingga 100 ribu butir, dan ini bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan petani yang mengikuti program peremajaan,” jelas Havizman.

Namun, ia mengakui pelaksanaan replanting masih menghadapi sejumlah hambatan. Tantangan utama datang dari rendahnya minat petani untuk menanam ulang kelapa.

Sebagian besar petani lebih memilih menanam komoditas lain seperti kelapa sawit yang dinilai lebih cepat menghasilkan dan memiliki nilai jual lebih stabil.

“Masa tunggu kelapa sampai bisa berbuah kembali cukup lama, sekitar lima hingga enam tahun. Ini yang sering membuat petani berpikir dua kali,” ujarnya.

Meski demikian, peluang pasar untuk kelapa sebenarnya sedang meningkat. Permintaan terhadap berbagai produk turunan kelapa, baik di dalam negeri maupun ekspor, terus bertambah.

Kondisi ini, kata Havizman, seharusnya bisa menjadi momentum bagi petani untuk kembali melirik komoditas kelapa sebagai sumber pendapatan jangka panjang.

“Kami berharap dengan membaiknya harga dan meningkatnya ekspor produk turunan kelapa, petani kembali tertarik menanam. Pemerintah siap mendukung dengan penyediaan benih unggul dan pendampingan teknis,” katanya.

Lebih lanjut, Havizman menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa memaksa petani untuk menanam kelapa, tetapi berupaya membuka akses dan dukungan agar mereka melihat prospek ekonominya.

“Keputusan tetap di tangan petani. Tugas kami memastikan semua dukungan tersedia, dari benih hingga pembinaan,” pungkasnya.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal