Pangannews.id - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan serangkaian strategi terintegrasi untuk memperkuat infrastruktur irigasi nasional sebagai kunci keberhasilan swasembada pangan yang menjadi agenda utama dalam Astacita Presiden Prabowo Subianto.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan, pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi kini tidak lagi dilakukan secara parsial, melainkan melalui pendekatan terpadu yang menggabungkan teknologi, pemberdayaan masyarakat, dan sinergi antarinstansi.
“Air adalah fondasi pangan. Tanpa sistem irigasi yang kuat dan terkelola dengan baik, mustahil mencapai kemandirian pangan. Karena itu, strategi kami adalah memastikan setiap tetes air memberi manfaat bagi petani,” ujar Dody.
Dia menjelaskan, strategi utama yang dijalankan Kementerian PU terdiri atas tiga pilar besar. Pertama, optimalisasi lahan pertanian melalui dukungan irigasi di daerah kewenangan daerah.
Dalam Tahap I pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025, kementerian telah memfasilitasi irigasi untuk kegiatan Optimasi Lahan (Oplah) Kementerian Pertanian seluas 280.880 hektare.
Dukungan ini menjadi dasar peningkatan intensitas tanam dan produktivitas di masa tanam kedua dan ketiga (MT II dan MT III).
Kedua, rehabilitasi dan pembangunan daerah irigasi kewenangan pemerintah daerah, mencakup jaringan primer, sekunder, hingga tersier.
Langkah ini bertujuan memperbaiki distribusi air dari hulu ke hilir agar aliran irigasi lebih efisien dan merata.
Ketiga, inovasi pemanfaatan air tanah melalui pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) berbasis teknologi pompanisasi. Sistem ini dirancang untuk mengangkat air dari lapisan tanah dalam ke sawah-sawah yang belum terjangkau irigasi permukaan.
Program tersebut menargetkan pelayanan air di area 225.775 hektare dengan total anggaran Rp6,10 triliun.
Dalam pelaksanaannya, Kementerian PU akan membangun 754 unit JIAT, merehabilitasi 76 unit sumur, serta membangun tiga embung baru.
Di luar program Inpres, Ditjen Sumber Daya Air juga melaksanakan kegiatan reguler berupa pembangunan 579 unit JIAT dan rehabilitasi 1.226 unit sumur.
Selain pembangunan berbasis infrastruktur, Kementerian PU juga menempuh strategi pemberdayaan masyarakat melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) dengan skema padat karya.
Program ini melibatkan kelompok tani dalam pembangunan, peningkatan, dan rehabilitasi jaringan irigasi secara swakelola.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah tidak hanya memperkuat infrastruktur pertanian, tetapi juga membuka lapangan kerja baru, menekan angka pengangguran, dan meningkatkan pendapatan masyarakat desa.
Hingga awal Oktober 2025, P3-TGAI Tahap I telah berjalan di 8.000 lokasi dengan progres fisik 54,98 persen dan menyerap 98.919 tenaga kerja. Program ini akan diperluas pada Tahap II dengan tambahan 1.597 lokasi di berbagai daerah.
Menurut Dody, seluruh strategi tersebut merupakan bentuk sinergi kebijakan lintas sektor antara Kementerian PU, Kementerian Pertanian, dan pemerintah daerah dalam mendukung visi besar Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai swasembada pangan.
“Pendekatan kami bukan hanya membangun saluran air, tetapi membangun sistem yang menjamin keberlanjutan pangan. Irigasi harus menjadi jantung pertanian modern,” tegasnya.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.