Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Riset IPB Ungkap Makanan Fermentasi Berperan dalam Pembentukan Antibodi

Bagikan
Tempe, salah satu makanan fermentasi. (Foto : Pixabay)
Tempe, salah satu makanan fermentasi. (Foto : Pixabay)

Pangannews.id - Selama ini makanan fermentasi dikenal sebagai asupan yang baik bagi pencernaan. Namun penelitian akademisi IPB University menunjukkan manfaatnya lebih dari itu. Pangan fermentasi juga disebut berperan penting dalam menjaga ketahanan tubuh.

Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University, Prof. Antonius Suwanto, mengungkapkan bahwa fermentasi adalah proses alami yang bukan hanya memperpanjang umur simpan makanan, tetapi sekaligus meningkatkan kualitas gizinya.

Dilansir dari laman resmi IPB University, Prof. Antonius menuturkan, adanya mikroorganisme dalam makanan fermentasi membuat tubuh mendapatkan paparan antigen dalam jumlah kecil.

Paparan tersebut, katanya, berfungsi melatih sistem kekebalan tubuh agar lebih sigap dalam mengenali ancaman.

“Antigen dari mikroorganisme itulah yang membantu sistem imun mengenali ancaman dan membentuk antibodi,” ujarnya.

Selain melatih sistem imun, bakteri baik yang terkandung dalam tempe, yoghurt, kimchi, dan makanan fermentasi lainnya juga berperan dalam mengaktifkan sel darah putih.

Sel darah putih merupakan garda terdepan pertahanan tubuh. Namun, kata Prof. Antonius, sel ini perlu dirangsang agar dapat bekerja optimal.

“Salah satu caranya adalah memberikan bakteri-bakteri yang tidak berbahaya melalui makanan fermentasi,” jelasnya.

Dalam penelitiannya, Prof. Antonius juga menyoroti perbedaan nilai gizi antara makanan fermentasi yang dikonsumsi mentah dan yang sudah dimasak.

Ia menyampaikan, hasil riset menunjukkan tempe mentah maupun tempe kukus sama-sama mampu meningkatkan pembentukan antibodi, dengan selisih yang tidak terlalu besar.

“Tempe kukus memang sedikit lebih rendah, tapi perbedaan itu tidak signifikan. Keduanya masih jauh lebih baik dibanding kedelai yang belum difermentasi,” katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa proses pengolahan yang berlebihan dapat merusak kualitas bakteri baik.

Pengolahan seperti penggorengan dalam suhu tinggi hingga dijadikan keripik disebut dapat mengurangi manfaat fermentasi itu sendiri.

“Kalau dibuat keripik, bakterinya sudah berantakan, jadi kualitasnya lebih rendah dibanding tempe goreng atau tempe bacem,” ujarnya.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal