Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Keracunan Massal di SMPN 1 Blora Ditetapkan sebagai KLB, Operasional Dapur MBG Dihentikan

Bagikan
Sejumlah Siswa SMPN 1 Blora dilarikan ke Rumah Sakit Dinas Kesehatan Tentara (RS DKT) Blora karena mengalami gejala keracunan usai menyantap menu MBG, Rabu (26/11/2025). (Foto : ANTARA/Gunawan)
Sejumlah Siswa SMPN 1 Blora dilarikan ke Rumah Sakit Dinas Kesehatan Tentara (RS DKT) Blora karena mengalami gejala keracunan usai menyantap menu MBG, Rabu (26/11/2025). (Foto : ANTARA/Gunawan)

Pangannews.id - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora resmi menetapkan kasus dugaan keracunan makanan di SMP Negeri 1 Blora sebagai kejadian luar biasa (KLB). Keputusan ini diambil usai Pemkab menerima surat resmi dari Badan Gizi Nasional, yang menilai lonjakan kasus memenuhi kriteria darurat.

Wakil Bupati Blora Sri Setyorini mengatakan penetapan KLB dilakukan karena skala kejadian tidak lagi bisa dianggap insiden biasa. Pada Selasa (25/11/2025) sekitar pukul 10.00 WIB, lebih dari seratus siswa mengalami gejala mual, muntah, dan diare usai menyantap menu makan bergizi gratis (MBG) di sekolah.

Menurut Sri, data resmi penanganan hingga perkembangan kasus sepenuhnya berada di bawah Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda). Di sisi lain, penyedia makanan program MBG, Satuan Pelayanan Pengolahan Gizi (SPPG) Karangjati 1 Blora, telah menerima surat penghentian operasional sementara dari Direktorat Pemantauan dan Pengawasan.

Surat tersebut, ujar Sri yang sekaligus menjabat Ketua Satgas Pangan Kabupaten Blora, menjadi bagian dari langkah evaluasi menyeluruh.

“Kami mengambil langkah tegas agar penanganan berjalan optimal dan tidak ada risiko lanjutan bagi anak-anak,” katanya.

Pemkab bersama tim gabungan juga telah turun melakukan investigasi lapangan. Pemeriksaan dilakukan terhadap seluruh aspek, mulai dari lokasi dapur, fasilitas, prosedur pengolahan makanan, hingga alur distribusi ke sekolah. Hasil resmi investigasi akan diumumkan Dinas Kesehatan setelah seluruh data terkumpul.

Sri memastikan pemerintah daerah memberikan pendampingan penuh kepada siswa yang terdampak.

“Keselamatan anak-anak menjadi prioritas. Kami pastikan penanganan dilakukan secepat dan sebaik mungkin,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinkesda Blora Nur Betsia menyebut jumlah siswa yang mendapatkan perawatan mencapai 122 orang. Dari total tersebut, 117 menjalani rawat jalan, sementara lima lainnya sempat dirawat inap. Kini tinggal tiga siswa yang masih dirawat, dua di RSU dr. R. Soetijono Blora dan satu di RS DKT Blora.

Nur menjelaskan penyelidikan epidemiologi telah dilakukan secara menyeluruh. Dokumen akreditasi dapur, sertifikat laik higiene dan sanitasi, SOP pengolahan makanan, hingga kondisi peralatan menjadi bagian dari pemeriksaan. Investigasi juga menelusuri proses memasak, penyajian, hingga pengiriman makanan ke sekolah.

Meski sejumlah dokumen dinilai sudah memenuhi syarat, kepastian penyebab keracunan masih menunggu hasil uji laboratorium dari Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Semarang. Sampel makanan, feses, muntahan, dan air tengah diuji untuk memastikan sumber kontaminasi.

“Uji mikrobiologi membutuhkan waktu sekitar satu minggu,” jelas Nur.

Dari sisi medis, lanjut dia, penanganan dilakukan berdasarkan gejala. Anak yang mengalami mual dan muntah diberi obat antiemetik, sementara siswa yang mengalami diare mendapatkan obat sesuai kebutuhan.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal