Pangannews.id - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) menyoroti pentingnya regenerasi petani melalui penyelenggaraan Anugerah Insan Pertanian 2025. Ajang itu tidak sekadar memberi penghargaan, tetapi juga menegaskan posisi Jateng sebagai penyangga kebutuhan pangan nasional.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jateng, Defransisco Dasilva Tavares menyebut sektor pertanian masih menyimpan potensi besar, terutama bagi generasi muda. Ia menilai banyak komoditas yang bisa dikembangkan dan menawarkan keuntungan ekonomi.
“Pertanian itu peluang besar untuk mendapatkan pendapatan yang lebih. Ini yang ingin kami dorong agar anak-anak muda tidak ragu terjun ke sektor ini,” ujarnya.
Di tengah tekanan penyempitan lahan, Jateng diprediksi tetap mampu meningkatkan produksi pangan berkat pemanfaatan teknologi. Berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik, produksi padi Jateng pada 2025 diperkirakan mencapai 11,36 juta ton GKP, setara 9,38 juta ton GKG.
Produksi jagung juga menunjukkan tren serupa. Sepanjang Januari–Desember 2025, produksinya diproyeksi menembus 3,86 juta ton, naik dari 3,28 juta ton pada 2024.
Dengan kenaikan sekitar 493 ribu ton dibanding periode yang sama tahun lalu, Frans menyebut Jawa Tengah semakin siap berperan sebagai penjaga stabilitas pasokan beras nasional.
Peningkatan produksi itu didorong berbagai strategi, mulai dari penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, perbaikan irigasi, hingga adopsi mekanisasi dan teknologi pertanian.
“Penggunaan drone dan teknologi baru sudah semakin umum dipakai petani muda. Mereka cepat beradaptasi,” katanya.
Ajang penghargaan ini menghadirkan beberapa kategori, termasuk petani milenial, pendamping petani, kelompok tani perkebunan, hingga produsen benih terbaik.
Salah satu penerima penghargaan yang menarik perhatian adalah Maresti Mei Yuniasih, petani kopi asal Bedono yang meraih Juara 1 kategori Komoditas Kopi. Ia mengaku profesi yang digelutinya sejak 2019 kini jauh lebih menjanjikan seiring meningkatnya minat pasar.
“Dulu green bean cuma dihargai Rp17.000 per kilogram. Sekarang sudah Rp75.000, bahkan kopi petik merah mencapai Rp100.000,” ujar pemilik Kelir Javanese Coffee itu.
Maresti berharap keberhasilannya mendorong lebih banyak anak muda terjun ke dunia pertanian, terutama di sektor kopi yang sedang berkembang.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.