Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Kemlu Ungkap Tiga Ancaman yang Bisa Guncang Keamanan Pangan Nasional

Bagikan
Kepala Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri Kemlu, Muhammad Takdir, dalam Pertemuan Kelompok Ahli yang digelar Program Studi Hubungan Internasional Fisipol UMY, Kamis (11/12/2025). (Foto: umy.ac.id)
Kepala Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri Kemlu, Muhammad Takdir, dalam Pertemuan Kelompok Ahli yang digelar Program Studi Hubungan Internasional Fisipol UMY, Kamis (11/12/2025). (Foto: umy.ac.id)

Pangannews.id - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyebut ketahanan pangan merupakan isu keamanan nasional yang mendesak. Hal itu disampaikan Kepala Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri Kemlu, Muhammad Takdir, dalam Pertemuan Kelompok Ahli yang digelar Program Studi Hubungan Internasional Fisipol UMY, Kamis (11/12/2025).

Takdir menjelaskan bahwa dunia saat ini menghadapi ancaman rangkap tiga, yakni konflik internasional, cuaca ekstrem, dan krisis ekonomi. Tiga faktor tersebut, menurutnya, langsung memukul ketersediaan pangan global.

“Konflik mengakibatkan kelangkaan pangan, cuaca ekstrem juga mengakibatkan kelangkaan pangan. Karena itu isu pangan harus dinaikkan menjadi isu keamanan nasional Indonesia,” ujarnya.

Gejolak itu terlihat jelas sejak pandemi COVID-19 dan semakin tajam setelah perang Rusia–Ukraina meletus. Pada 2022, lonjakan harga pangan internasional mencapai titik tertinggi dalam sejarah hingga memunculkan prediksi bahwa 600 juta orang berpotensi masuk ke kondisi krisis pangan akut.

Takdir mengingatkan bahwa krisis pangan dapat berujung pada instabilitas politik, seperti krisis roti yang memicu kerusuhan di Mesir pada 2008 dan 2011.

Indonesia, kata Takdir, memiliki kerentanan serius karena konsumsi tiga komoditas strategis, gandum, jagung, dan kedelai, terus melampaui kapasitas produksi nasional.

Ketergantungan pada impor gandum juga dinilainya semakin berbahaya, terutama karena pasokan Indonesia banyak bertumpu pada Rusia dan Ukraina yang tengah berkonflik.

“Utilitasnya lebih tinggi daripada produksi dan mendekati stok. Ini sinyal bahwa Indonesia harus sangat berhati-hati,” ucapnya.

Untuk mengurangi risiko jangka panjang, Kemlu mendorong penerapan Diplomasi Pangan dengan strategi Friendshoring dan Nearshoring. Friendshoring dilakukan dengan mengalihkan sumber pasokan ke negara-negara stabil dan sehaluan secara politik, sementara Nearshoring memindahkan kegiatan produksi lebih dekat ke Indonesia.

Takdir mencontohkan pabrik pengolahan gandum asal Australia yang kini beroperasi di Makassar sebagai langkah konkret pendekatan Nearshoring.

Ia juga menilai kebijakan domestik masih belum mencerminkan potensi Indonesia sebagai negara agraris. Alih fungsi lahan pertanian, minimnya diversifikasi pangan, serta belum optimalnya penggunaan teknologi pertanian menjadi faktor penghambat utama.

“Pertanyaannya, apakah kita ingin membangun resiliensi atau mempertahankan dependensi? Ini harus dirumuskan bersama,” tegasnya.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal