Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Tarmeem, Domba Suntingan Gen Pertama India, Tumbuh Sehat di Usia Satu Tahun

Bagikan
Suasana Indonesia International Pet Expo (IIPE) 2025 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (31/10/2025). (Foto: ANTARA)
Suasana Indonesia International Pet Expo (IIPE) 2025 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (31/10/2025). (Foto: ANTARA)

Pangannews.id - Seekor domba hasil penyuntingan gen pertama di India menjadi langkah baru riset peternakan negara tersebut. Domba bernama Tarmeem itu baru saja genap berusia satu tahun dan dilaporkan tumbuh sehat dengan peningkatan massa otot yang signifikan dibandingkan domba normal.

Tarmeem lahir pada 16 Desember 2024 di wilayah Kashmir yang dikelola India dan kini dipelihara di fasilitas khusus Universitas Pertanian Sher-e-Kashmir, Srinagar. Domba jantan tersebut ditempatkan bersama saudara kembarnya yang tidak mengalami penyuntingan gen sebagai pembanding pertumbuhan.

Tim peneliti menggunakan teknologi CRISPR, metode penyuntingan DNA yang bekerja layaknya gunting biologis untuk memotong gen tertentu. Dalam eksperimen ini, para ilmuwan menonaktifkan gen myostatin, gen yang selama ini diketahui menghambat pertumbuhan otot pada ternak.

Peneliti utama proyek, Dr Suhail Magray, menjelaskan proses dimulai dengan mengekstraksi embrio dari domba bunting, lalu menyunting gen target di laboratorium.

Embrio tersebut kemudian ditanamkan kembali ke induk pengganti hingga akhirnya Tarmeem lahir setelah masa kebuntingan sekitar 150 hari.

Setelah memasuki usia satu tahun, hasil pemantauan menunjukkan Tarmeem tumbuh normal secara fisiologis dan biokimia.

Dekan Fakultas Ilmu Kedokteran Hewan Universitas Sher-e-Kashmir, Prof Riaz Shah, menyebut peningkatan massa otot Tarmeem mencapai sekitar 10 persen dibandingkan saudara kembarnya.

“Parameter kesehatannya stabil dan pertumbuhan ototnya sesuai prediksi. Angka ini masih berpotensi meningkat seiring bertambahnya usia,” kata Shah, seperti dikutip BBC.

Meski menunjukkan hasil menjanjikan, Tarmeem masih berada dalam pengawasan ketat. Tim peneliti terus mengevaluasi aspek kesehatan dan kelangsungan hidupnya, sekaligus mengajukan proposal pendanaan lanjutan kepada pemerintah India untuk pengembangan riset.

Dilansir dari Antara, eksperimen ini merupakan hasil kerja panjang selama tujuh tahun. Dari tujuh prosedur bayi tabung yang dilakukan, hanya satu domba yang berhasil mengalami penyuntingan gen secara efektif, sementara dua kehamilan berakhir keguguran.

“Kami mengalami banyak kegagalan di awal. Namun sekarang metode ini sudah lebih terstandar dan peluang keberhasilannya ke depan akan lebih besar,” ujar Shah.

Para ilmuwan melihat potensi besar teknologi ini untuk mendukung ketahanan pangan, khususnya di Lembah Kashmir yang konsumsi daging dombanya mencapai sekitar 60 ribu ton per tahun, sementara produksi lokal hanya memenuhi separuh kebutuhan.

Wakil Rektor Universitas Sher-e-Kashmir, Prof Nazir Ahmad Ganai, mengatakan penyuntingan gen dapat menjadi solusi atas keterbatasan lahan dan sumber daya.

“Dengan teknologi ini, bobot tubuh domba bisa meningkat hingga 30 persen. Artinya, lebih sedikit hewan dapat menghasilkan lebih banyak daging,” katanya.

Meski demikian, masa depan Tarmeem masih bergantung pada kebijakan pemerintah. India belum memutuskan apakah hewan hasil penyuntingan gen akan dikategorikan sebagai produk alami dan diizinkan untuk dikonsumsi atau dikembangkan secara komersial.

Teknologi CRISPR sendiri telah digunakan secara luas di berbagai negara untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan peternakan, meskipun tetap memicu perdebatan etika. Berbeda dengan rekayasa genetika, penyuntingan gen tidak melibatkan pemasukan gen asing, melainkan memodifikasi gen yang sudah ada.

Sejumlah negara seperti Jepang, Brasil, dan Australia telah mengizinkan konsumsi hewan hasil penyuntingan gen tertentu. Sementara itu, India baru mulai melangkah dengan menyetujui varietas padi hasil penyuntingan gen pada tahun ini.

“India pernah mencapai swasembada pangan berkat sains. Dengan teknologi serupa pada hewan ternak, industri daging juga berpeluang berkembang pesat,” ujar Ganai optimistis.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal