Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Di WEF Davos, Pendekatan Pangan Indonesia Dinilai Adaptif Hadapi Krisis Iklim

Bagikan
Sesi diskusi panel bertajuk “Food Security: Indonesia’s Strategy for Climate-Resilient Food Systems” yang digelar di Indonesia Pavilion, WEF Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026) ‎ (Foto : Antara/BKPM)
Sesi diskusi panel bertajuk “Food Security: Indonesia’s Strategy for Climate-Resilient Food Systems” yang digelar di Indonesia Pavilion, WEF Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026) ‎ (Foto : Antara/BKPM)

Pangannews.id - Indonesia kembali mendapat perhatian di panggung global. Dalam forum World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, strategi Indonesia dalam membangun ketahanan pangan yang adaptif terhadap perubahan iklim dinilai menunjukkan kepemimpinan yang kuat dan terarah.

Penilaian tersebut disampaikan World Food Programme (WFP) atau Program Pangan Dunia PBB dalam sesi diskusi khusus mengenai ketahanan pangan yang digelar di Indonesia Pavilion.

WFP menilai Indonesia mampu mengintegrasikan kebijakan pangan, perlindungan sosial, serta kesiapsiagaan menghadapi krisis iklim dalam satu pendekatan sistemik.

Assistant Executive Director for Partnership and Innovation WFP, Rania Dagash-Kamara, menyebut Indonesia sebagai salah satu negara yang berani bertindak lebih awal sebelum krisis pangan terjadi.

“Tidak banyak negara yang mampu membangun ketahanan pangan berbasis sistem dengan kepemimpinan pemerintah yang kuat dan responsif terhadap perubahan iklim. Indonesia termasuk di antaranya,” ujar Rania.

Diskusi panel bertajuk Food Security: Indonesia’s Strategy for Climate-Resilient Food Systems tersebut turut menghadirkan sejumlah pelaku global lintas sektor. Mereka menilai langkah Indonesia relevan di tengah meningkatnya risiko iklim dan ketidakpastian ekonomi global.

CEO ClimateAi, Himanshu Gupta, menilai Indonesia memiliki modal penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional, salah satunya melalui capaian swasembada beras di sebagian besar periode. Namun, menurutnya, tantangan ke depan menuntut penguatan kebijakan berbasis data dan teknologi.

“Pendekatan sistemik dan berbasis data akan menentukan daya tahan sistem pangan Indonesia menghadapi tekanan iklim dan dinamika global,” kata Gupta.

Dari sisi industri pertanian, Chairman and Group CEO United Phosphorous Limited (UPL), Jai Shroff, melihat peluang besar Indonesia dalam mendorong inovasi sektor pertanian. Dengan jumlah masyarakat yang bergantung pada sektor ini, investasi teknologi dinilai dapat memberi dampak signifikan.

“Indonesia punya potensi besar untuk berinovasi di pertanian. Dengan teknologi yang tepat, perubahan skala besar sangat mungkin diwujudkan,” ujarnya.

Sementara itu, Ana Carolina Zimmerman, petani dari Fazenda Ribeirão, Brasil, menekankan pentingnya penguatan institusi dan kolaborasi internasional. Ia mengingatkan bahwa inovasi pertanian harus dapat diakses secara merata, termasuk oleh petani kecil.

“Ketahanan pangan tidak hanya soal teknologi, tetapi juga memastikan manfaatnya dirasakan semua pihak,” kata Zimmerman.

Dalam kesempatan terpisah di forum WEF, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kebijakan ekonomi Indonesia dirancang secara terukur dan berbasis data.

Pendekatan tersebut, menurut Presiden, menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

“Kebijakan kami dirancang secara tepat dan disiplin,” ujar Prabowo dalam pidatonya di Davos.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal