5 jam yang lalu
PanganNews.id - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Pusat Penyuluhan Pertanian menggelar Mentan Sapa Petani dan Penyuluhan (MSPP) Volume 15, Jumat (22/05/2026).
Mengusung tema “Pengendalian Hama Tikus pada Tanaman Padi dan Jagung”. Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube @pusluhtanri yang diikuti oleh penyuluh pertanian di seluruh Indonesia.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pengamanan produksi pangan nasional harus dilakukan secara serius, termasuk melalui pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) yang berpotensi menurunkan produktivitas pertanian.
“Ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi juga kemampuan kita melindungi tanaman dari ancaman OPT yang dapat menyebabkan kehilangan hasil secara besar,” tegas Amran.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa penyuluh memiliki peran penting dalam mendampingi petani menghadapi ancaman serangan OPT di lapangan.
“Penyuluh harus menjadi garda terdepan dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada petani agar pengendalian OPT dilakukan secara tepat, terpadu, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Plt. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho Dharmo Putro, dalam arahannya menyampaikan bahwa tikus merupakan salah satu hama utama pada tanaman pangan yang perkembangannya sangat cepat dan sulit dikendalikan apabila tidak dilakukan secara bersama-sama.
"Pengendalian tikus tidak mungkin bisa dilakukan hanya oleh teman-teman penyuluh tanpa bantuan sarana dari dinas maupun dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Harus ada kolaborasi.”
Acara MSPPP kali ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Rahmini dan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Ahli Madya Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Suparni.
Pada kesempatan tersebut, Rahmini menjelaskan bahwa tikus sawah merupakan hama yang memiliki kemampuan adaptasi dan reproduksi sangat tinggi. Tikus aktif pada malam hari dan umumnya bersarang di pematang sawah, tanggul, semak, maupun saluran irigasi. Serangan dapat terjadi sejak fase vegetatif hingga generatif baik pada tanaman padi maupun jagung.
Pada tanaman padi, tikus menyerang batang dan malai terutama saat fase bunting hingga pengisian bulir. Sementara pada tanaman jagung, tikus menyerang tongkol dan biji saat fase pengisian.
“Pada fase generatif menjadi fase paling kritis karena populasi tikus berkembang sangat cepat ketika sumber makanan tersedia melimpah”, ujar Rahmini.
Rahmini menambahkan bahwa strategi pengendaliannya dapat dilakukan dengan beberapa hal, seperti Tanam dan panen serempak, senitasi lingkungan dan habitat tikus, gropyokan massak, pengomposan/fumigasu, pemasangan trao barrier system (TBS), pemanfaatan burung hantu dan musuh alami lainnya, serta penggunaan rodentisida secara tepat.
Sementara, Suparni menjelaskan bahwa pengendalian tikus harus dilakukan melalui pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) berbasis agroekosistem dan kolaborasi lintas sektor.
Hingga Mei 2026, serangan tikus pada tanaman padi telah mencapai lebih dari 23 ribu hektare dengan luas puso ratusan hektar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tikus masih menjadi ancaman serius terhadap produksi pangan nasional. Pengendalian tikus itu tidak bisa sekali, tapi harus berkelanjutan, jelasnya.
Terakhir, Suparni menjelaskan berbagai metode pengendalian yang dilakukan Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, mulai dari pengamatan populasi, gerakan pengendalian massal, penggunaan TBS/LTBS, pengoncoran lubang, hingga pengembangan rumah burung hantu (rubuha).
Melalui MSPP ini, Kementerian Pertanian berharap penyuluh dan petani semakin memahami strategi pengendalian hama tikus secara terpadu, efektif, dan berkelanjutan guna menjaga produktivitas tanaman padi dan jagung serta mendukung ketahanan pangan nasional. (*/Adv)
8 jam yang lalu
8 jam yang lalu
You must login to comment...
Be the first comment...