7 jam yang lalu
Pangannews.id – Gigitan atau cakaran hewan yang berisiko menularkan rabies tidak boleh dianggap sepele. Meski luka terlihat kecil, tindakan cepat tetap diperlukan untuk mencegah risiko penularan.
Salah satu langkah pertolongan pertama yang penting adalah mencuci luka dengan sabun dan air mengalir selama sedikitnya 15 menit, kemudian segera mencari pertolongan medis.
Pesan tersebut menjadi bagian dari edukasi pada puncak peringatan World Rabies Day (WRD) 2026 di Kampus IPB University Baranangsiang, Bogor, Minggu (27/9/2026).
Masyarakat diingatkan bahwa pencegahan rabies tidak hanya dilakukan melalui vaksinasi hewan, tetapi juga melalui tindakan tepat setelah terjadi paparan.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menegaskan bahwa pengendalian rabies berkaitan langsung dengan perlindungan kesehatan dan keselamatan manusia.
“Ketika kita berbicara tentang rabies, kita tidak hanya berbicara tentang angka kasus, vaksinasi, atau program pemerintah, tetapi ini tentang kesehatan dan kehidupan. Di balik satu kasus rabies, ada keluarga yang cemas, ada orang tua yang berharap anaknya dapat diselamatkan, dan ada kehidupan yang dapat berakhir hanya karena penyakit yang sebenarnya dapat kita cegah,” ujar Agung.
Karena itu, masyarakat perlu memahami langkah yang harus dilakukan apabila mengalami gigitan atau cakaran hewan yang berisiko rabies. Luka harus segera dicuci menggunakan sabun dan air mengalir selama sedikitnya 15 menit.
Setelah itu, korban perlu segera mendatangi puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan sesuai indikasi.
Penanganan medis tidak boleh ditunda hanya karena luka terlihat kecil atau hewan yang menggigit merupakan hewan peliharaan.
Tenaga kesehatan akan menilai jenis paparan dan menentukan kebutuhan vaksin antirabies maupun tindakan lain yang diperlukan.
Rabies merupakan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia, terutama melalui gigitan atau cakaran yang terkontaminasi air liur hewan terinfeksi.
Anjing menjadi sumber utama penularan rabies kepada manusia secara global. Karena itu, vaksinasi hewan dan pencegahan gigitan menjadi bagian penting dalam pengendalian penyakit ini.
Dalam sesi edukasi WRD 2026, Agung mengingatkan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko rabies dan langkah pencegahannya.
Edukasi perlu berjalan beriringan dengan vaksinasi hewan, pengawasan kesehatan hewan, serta kepemilikan hewan yang bertanggung jawab.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak sembarangan mendekati atau menyentuh hewan yang tidak dikenal, terutama ketika hewan menunjukkan perilaku tidak biasa.
Pemilik hewan perlu memastikan vaksinasi dilakukan secara rutin dan hewan dipelihara dengan baik.
Pengendalian rabies membutuhkan keterlibatan pemerintah pusat dan daerah, tenaga kesehatan manusia dan hewan, organisasi profesi, serta masyarakat.
Vaksinasi hewan secara rutin, pengelolaan populasi hewan, edukasi publik, dan respons cepat terhadap kasus gigitan merupakan bagian dari upaya pencegahan yang saling melengkapi.
Melalui peringatan WRD 2026, Kementerian Pertanian mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan hewan sekaligus memahami tindakan yang perlu dilakukan untuk melindungi diri dan keluarga.
Pesannya sederhana: jika digigit atau dicakar hewan yang berisiko rabies, segera cuci luka dengan sabun dan air mengalir selama sedikitnya 15 menit, lalu cari pertolongan medis. Jangan menunggu luka membesar atau gejala muncul.
Lima belas menit adalah langkah awal pertolongan pertama, bukan pengganti penanganan medis.
Dengan tindakan cepat, vaksinasi hewan, dan kolaborasi lintas sektor, upaya pencegahan rabies dapat diperkuat demi melindungi kesehatan manusia dan hewan. (*/ADV)
You must login to comment...
Be the first comment...